Tampilkan postingan dengan label BENNY RHAMDANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BENNY RHAMDANI. Tampilkan semua postingan
0

PANGERAN UNTUKKU

Bel tanda bubar siswa-siswa SMA TOP sudah berbunyi beberapa menit lalu. Satu kelas masih berkutat dengan pelajaran tambahan, sebagian besar siswa sudah pulang, sebagian lagi masih berbetah-betah di sekolah.
"Ema, kamu akan datang ke pesta Ester, kan?" tanya Marlin saat keluar dari pintu perpustakaan, usai mengembalikan beberapa buku yang dipinjamnya.
"Entahlah," jawabku singkat. Sejak menerima kartu undangan dari Ester aku memang sudah ragu akan memenuhi undangan itu. Ada persyaratan dalam undangan itu yang nggak bisa kupenuhi. Undangan harus datang bersama pasangannya.
"Kamu nggak yakin karena nggak punya pasangan, kan? Kita ke lapangan basket dulu, yuk. Barangkali Doni bisa membantu," ajak Marlin.
Aku tak menolak. Di sisi lapangan basket Marlin memanggil Doni. Cowok itu datang dengan cepat sambil tersenyum. Keringat yang mengalir di lehernya mempertegas ketampanannya. Kupikir, alangkah cocoknya pasangan Doni dan Marlin. Yang satu cantik, satunya lagi seperti Arjuna.
"Kami punya kesulitan, barangkali kamu bisa membantu, Don. Tentang pesta Ester. Ema belum punya pasangan datang ke sana," tutur Marlin.
Doni menganggukkan kepalanya sebentar. Ia kemudian berteriak memanggil salah seorang temannya yang tengah bermain basket. Cowok yang tingginya sedikit di atas Doni datang menghampiri.
"Oki, kamu belum punya pasangan untuk ke pesta Ester, kan? Kebetulah sahabat Marlin juga belum punya pasangan. Oh, iya kenalkan namanya, Ema!"
Aku mengangguk kecil. Aku sudah tahu nama cowok itu karena cukup populer di telinga gadis-gadis. Ia juga anggota dream team basket sekolah seperti Doni. Kabar terakhir yang sampai telingaku, Oki baru putus dari gadisnya.
"Aku belum bisa memberi kepastian, Don. Bagaimana kalau kuberi jawabannya besok? Pesta itu masih seminggu lagi ini," sahut Oki sambil menyeka keringatnya.
"Tak masalah," timpalku.
Aku dan Marlin segera meninggalkan lapangan basket. Cukup panas juga udara siang ini. Herannya, Doni dan teman-temannya tetap tahan main basket. Barangkali karena itulah mereka jago memainkan bola basket itu.
"Aku nggak akan datang ke pesta Ester kalau kamu nggak datang, Ema," gumam Marlin menjelang pintu gerbang sekolah.
"Kamu nggak bisa begitu. Doni akan marah nanti."
"Oleh sebab itu kamu harus mau datang. Eh, itu Ester!" Marlin melambaikan tangannya ke seberang jalan. Ester berjalan menyeberang mendekati kami.
"Marlin, kamu harus membawa Doni ke pestaku nanti. Sekalian mengumumkan bahwa hubunganmu dan Doni serius. Habis sudah seminggu pacaran kamu jarang terlihat bareng dia di sekolah. Kamu juga harus datang. Aku penasaran ingin tahu siapa pasanganmu, Grandma," kata Ester kepadaku seraya mengibarkan sisa undangan di tangannya.
Aku cuma tersenyum. Di antara teman sekolahku, cuma Marlin dan barangkali Doni yang memanggil namaku dengan benar. Sisanya memanggilku dengan julukan kudapat sejak kelas satu, yakni Grandma alias Nenek!
"Kami akan datang, Ester. Tenang saja. Kamu sendiri akan berpasangan dengan siapa nanti? Alford, Lloyd, Peter...."
"Hermawan," Ester memotong kalimat Marlin. "Bukan anak sekolah kita. ia teman kuliah abangku di Swiss. Dia jauh lebih segala-galanya dari kunyuk-kunyuk yang kamu sebutkan tadi. Eh, sudah yah. Jemputanku sudah datang. Dah, Marlin, Grandma!"
Ester masuk ke dalam BMW yang menjemputnya itu meninggalkan kami.
"Kamu sudah berjanji pada Ester, itu berarti kita akan benar-benar datang," kataku kemudian.
"Memang. Pesta ulangtahunnya di Eldorado pasti akan ramai. Kamu sendiri kan pernah bilang belum pernah ke pesta ulangtahun teman-teman kita sebelumnya dan ingin sekali-kali melihatnya," Marlin mengungkit kalimatku dulu.
"Ya, tapi bukan pesta yang harus dengan pasangan. Kurasa kalau aku nggak datang pada pesta Ester, aku bisa melihat pesta ulangtahun teman kita lainnya."
"Sudahlah, kita tunggu saja kabar dari Oki besok," tepis Marlin sambil mencegat angkutan umum. Kami berpisah karena tujuan kami berlawanan arah. Padahal aku masih ingin mengucapkan sebuah kalimat; kamu baik sekali padaku, Marlin.
***
Ketika aku mendengar kabar bahwa Oki nggak bisa menjadi pasanganku di pesta ulangtahun Ester, aku nggak merasa sedih maupun kecewa. Aku sudah menduga sebelumnya. Mana mungkin salah seorang anggota dream team mau menjadi pasangan seorang gadis yang berkacamata dengan bingkai tebal, rambutku yang panjang cuma dikepang tanpa hiasan pita ataupun bando, dan sama sekali nggak populer di sekolah.
"Tenang, Ma. Aku sudah mempersiapkan pengganti Oki," hibur Marlin di saat istirahat. "Semalam aku sudah ngobrol dengan kakakku. Ia kebetulan tak punya acara malam Minggu nanti."
"Kakakmu bersedia? Itu kan karena ia belum mengenalku. Kalau ia tahu aku, pasti ia akan membatalkan kesediaannya itu."
"Kamu juga belum mengenalnya, kan? Jadi jangan sembarangan menudingnya sama seperti Oki. Kakakku baik. Sebagai mahasiswa, meski baru tingkat dua, ia sudah bisa berpikir dewasa, dapat menilai mana gadis yang pantas menjadi pasangannya ke suatu pesta," Marlin kelihatan agak sewot.
"Maaf, bukan maksudku menuduh kakakmu sejahat itu. Tapi yang jelas, aku dan kakakmu belum saling mengenal," kataku buru-buru.
"Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kamu ke rumahku dulu? Hari Selasa kakakku nggak ada kuliah," usul Marlin.
Aku mengangguk setuju. Sebenarnya aku agak kuatir dengan rencana Marlin. Yang kukuatirkan, bisa saja kakaknya itu mau memenuhi permintaan Marlin lantaran setengah dipaksa. Kepergian kakak Marlin denganku nanti nggak tulus. Namun untuk menolak rencana Marlin aku nggak sanggup. Ia pasti sudah setengah mati berupaya mencari pasangan untukku.
Pulang sekolah aku langsung ke rumah Marlin. Ini kunjungan pertamaku ke rumahnya, sejak kami bersahabat empat bulan lalu saat kami duduk sebangku di kelas dua. Bisa jadi ini juga untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah teman sekolahku.
Sejak dulu aku memang menutup diri. Setiap ada acara kelas yang mengharuskan kumpul di rumah salah seorang temanku, aku tak pernah datang. Entahlah, aku tak merasa kehadiranku akan berarti apa-apa. Ada aku ataupun nggak semuanya akan berjalan lancar. Begitu pun dengan kegiatan di sekolah. Di kelas satu aku cuma ke sekolah untuk belajar, begitu bel pulang berbunyi aku langsung pulang ke rumah.
"Pasti cucumu di rumah banyak sekali yang harus kamu urus," begitu komentar teman-temanku di kelas satu. Dan satu persatu mereka mulai memanggilku Grandma. Mulanya aku agak risih, tapi lama kelamaan terbiasa juga.
Tapi sejak aku mengenal Marlin, sedikit demi sedikit aku mulai berubah. Dengan segala kebaikannya, Marlin mulai membuka diriku untuk mau sedikit peduli dengan sekelilingku. Ia beberapa kali mengajakku melihat pertandingan basket di sekolah, mengajakku ke kantin dan ngobrol dengan teman-temanku yang lain.
"Ini kakakku, Ema. Namanya Budi Sutanto. Aku memanggilnya Kak Budi tersayang," ucap Marlin setelah beberapa menit membiarkan aku duduk sendirian di ruang tamu. Bersamanya, seorang cowok mendekatiku dan menjabat tanganku.
"Nama saya Ema...." Aku agak gugup menyebut namaku sendiri. Sebelum tiba di rumah Marlin, aku sudah berpikir kalau Marlin sudah secantik bidadari, pasti kakaknya akan setampan pangeran. Tapi bayangan yang ada di benakku ternyata jauh sekali. Kakak Marlin lebih tampan dari seorang pangeran yang pernah kubayangkan. Itulah yang membuatku tiba-tiba saja ingin segera pulang dan menyesal mengenalnya.
"Nah, kalian ngobrol saja dulu. Buat janji bagaimana rencana untuk pergi nanti. Aku mau ganti pakaian dulu." Marlin meninggalkanku.
Aku jadi ingin tahu apa yang pantas diucapkan seekor itik buruk rupa bila bertemu dengan seorang pangeran.
"Marlin banyak cerita tentang kamu. Katanya kamu cerdas. Kamu sering mengajarinya pelajaran-pelajaran yang nggak ia mengerti," kata Budi membuka percakapan. Ia menatapku lekat-lekat, membuatku semakin tak berani melihat wajahnya.
"Marlin terlalu melebih-lebihkan. Justru Marlin yang baik pada saya, Kak Budi. Saya nggak tahu kalau Tuhan nggak memperkenalkan Marlin pada saya."
"Yang pasti kita nggak akan bisa kenalan dan pergi ke pesta ulangtahun teman kalian itu," sahut Budi. Menyesalkah ia?
"Soal pesta itu, saya tak keberatan kalau ternyata Kak Budi ingin membatalkannya," kataku kemudian.
"Aku sudah berjanji pada Marlin. Lagipula akan menyenangkan jika pergi ke sebuah pesta dengan gadis SMA secerdasmu. Atau kamu yang keberatan, Ema?"
Aku terdiam. Apa yang memberatkanku sekarang? Paling persiapan batin karena aku yakin nanti semua mata di pesta akan memandangku aneh. Lihat, Grandma ternyata punya seorang cucu yang jadi pangeran, komentar mereka. Dan aku tentu saja harus siap mendengar itu. Atau yang lebih menyakitkan sekalipun. Daripada aku harus membuat Marlin kecewa. Bukankah ia selalu serius dengan ucapannya, sedang ia sudah berjanji tak akan pergi ke pesta itu bila aku nggak pergi.
"Aku akan menjemputmu jam tujuh. Pesta itu mulai jam delapan, kan? Aku sudah memperhitungkan waktu perjalanan ditambah kemacetan jalan sekitar Eldorado nanti," kata Budi lagi.
Aku mengangguk. "Mudah-mudahan Kak Budi nggak repot karena saya," kataku kemudian.
Marlin muncul tak lama kemudian. Ia menanyai kakaknya soal rencana ke pesta itu. Aku memberitahu bahwa kami sudah membuat janji.
"Bagus. Kalau begitu beres, aku juga bisa membuat janji dengan Doni besok. Oh, iya bagaimana kalau pulang sekolah besok kita cari kado buat pesta ultah Ester?" ajak Marlin.
"Bisa aja," jawabku cepat. Dan aku juga mungkin akan membeli gaun yang pantas untuk pergi bersama Budi nanti. Belanja bersama Marlin mungkin akan membantuku untuk memilih mana gaun yang pantas untukku.
***
Rabu siang sepulang sekolah aku dan Marlin melaksanakan niat untuk belanja lebih dulu. Aku nggak nyangka kalau Budi akan menunggu kami di gerbang sekolah. Dengan mazda putihnya ia mengantar kami ke Bandung Indah Plaza. Sebenarnya itu keterlaluan. Jarak sekolahku ke Jalan Merdeka tak sampai dua kilometer.
"Biar saja Kak Budi mengantar kita. ia harus terbiasa bersamamu, Ema. Kamu akan merasa janggal tiba-tiba pergi ke suatu pesta dengan mahkluk asing, bukan?" gumam Marlin seperti membaca pikiranku.
Tapi Marlin tak membiarkan kakaknya terus menguntit kami. Menurunya, Budi tak boleh tahu gaun apa yang akan kupakai nanti. Kurasa benar juga apa yang dikatakan Marlin.
Ada tiga gaun yang kusukai. Marlin membantu menentukan mana gaun yang terbaik untukkku. Sebuah gaun berwarna biru pastel akhirnya kubeli. Sementara Marlin membeli gaun dengan warna yang lebih cerah.
Usai belanja Budi kembali bergabung bersama kami. Sambil menikmati ayam dan kentang Texas, kami ngobrol banyak sekali. Tepatnya, Budi dan Marlin berusaha membuatku banyak bercerita karena mulanya aku cuma jadi pendengar setia saja.
***
Dan hari ini, sepulang sekolah untuk pertama kalinya aku mengajak Marlin ke rumahku. Kubawa ia langsung ke kamarku.
"Astaga kamarmu besar sekali. Cuma seharusnya kamu punya ruang sendiri untuk buku-bukumu ini, Ema," komentar Marlin. Ia tersenyum ketika membaca beberapa buku psikologi populer tentang remaja gaul.
"Aku tertarik membelinya sejak bersahabat denganmu," kataku.
Sesuai janji, aku mencoba gaun yang kubeli kemarin. Gaun itu pas untukku, tapi rasanya ada yang janggal ketika aku bercermin.
"Rambutmu lepas dulu, Non. Kamu nggak bisa ke pesta dengan rambut dikepang begitu. Biarkan rambutmu terurai," saran Marlin.
"Bagaimana kalau disanggul kecil saja. Rambutku terlalu panjang bila digerai. Jangan-jangan nanti aku dikira kuntilanak."
"Bagaimana kalau dipotong? Jangan terlalu pendek, aku juga tak akan setuju. Kebetulan Sabtu siang aku juga punya rencana ke salon."
Aku berpikir sebentar. Kalau Nenek masih ada, pasti ia akan melarang. Tapi sejak kepergiannya ke surga dua bulan lalu tak ada lagi yang membantu mengurus rambutku ini. Nenek pasti tak akan marah kalau kupotong rambutku.
"Baiklah," kataku akhirnya.
"Percayalah, kau pasti akan kelihatan lebih cantik. Dan teman-teman pasti akan iri melihatmu, Ema."
Benarkah? Benarkah aku menjadi cantik? Ah, bagiku yang terpenting bisa menjadi pasangan yang tak terlalu mengecewakan Budi nanti.
Setelah melepas kembali gaunku, aku duduk berdua di atas tempat tidurku dengan Marlin. Mata Marlin menatap tajam ke arahku. Aku yakin ada sesuatu yang ingin diceritakannya.
"Aku ingin menceritakan sesuatu tentang kebaikanku selama ini. Mungkin kau sering menanyakan itu dalam hati," kata Marlin kemudian.
Aku mengangguk. Marlin tak lantas melanjutkan ceritanya. Ia malah mengeluarkan selembar foto dari tasnya. Wajah seorang cowok berkacamata dengan gagang hitam dan tebal, rambutnya tak berbentuk, dan... meski aneh tapi sekilas aku mengenalnya.
"Ini foto kakaku tiga tahun lalu, waktu ia masih SMA. Teman-teman sekelasnya memanggil kakakku dengan julukan Gepetto. Kamu tahu kan tukang kayu yang membuat Pinokio? Dan tak pernah ada gadis yang mau pergi dengannya pada suatu pesta kelas. Waktu itu aku masih kelas dua SMP. Kebetulan aku agak bongsor, jadi aku tak keberatan ketika kakakku minta aku mendampingi ke pesta yang harus didatanginya itu."
Marlin diam sejenak menghela napas. Matanya menerawang ke langit-langit.
"Tapi dasar kakakku terlalu tak acuh dengan penampilannya. Meski aku telah menyarankannya untuk rapi sedikit, ia menolak. Akibatnya di pesta itu kakakku diolok-olok habisan. 'Lihat, Gepetto berhasil mengajak seorang Peri' dan lain-lainnya. Dadaku sakit mendengar olok-olok itu. Aku menangis di rumah dan berjanji untuk mengubah penampilan kakakku." Mata Marlin basah oleh emosinya.
"Pada mulanya aku mengalami kesulitan. Namun sewaktu diam-diam kutahu ia mulai naksir salah seorang gadis, akhirnya ia mau juga mengubah dirinya. Kacamatanya diganti, rambutnya dipotong sesuai dengan wajahnya, kuganti majalah ilmiahnya dengan majalah-majalah populer. Waktu itu dunia seperti terbalik, aku jadi kakaknya dan ia jadi seorang adik yang penurut."
Dapat kubayangkan seperti apa kejadiannya. Tentu tak jauh seperti yang kualami.
"Tak lama kemudian telepon teman-teman ceweknya mulai berdatangan. Kak Budi sempat memacari gadis yang ia taksir itu, tapi putus lantaran ternyata gadis itu cuma menyukai ketampanan kakakku saja. Sampai sekarang ia belum pacaran lagi. Bagiku itu tak masalah, asalkan ia tak lantas kembali seperti Gepetto lagi. Astaga, kamu menangis, Ema!"
Aku menyeka airmata yang jatuh tanpa kurasakan. "Bagaimana aku tak terharu, Marlin. Di depanku kini ada seorang peri yang nggak cuma baik terhadap kakaknya, tapi juga sahabatnya. Bagaimana aku mesti membalasmu kelak?"
"Kalau tak keberatan, cukup dengan memberi respon pada kakakku. Sejak mengenalmu dulu, aku sudah menceritakan tentangmu pada Kak Budi. Ia tertarik untuk berkenalan denganmu. Tapi kupikir itu belum waktunya. Sampai kemarin-kemarin ini. Kamu tahu apa komentarnya setelah kita ngobrol di Texas. Katanya, kamu nggak cerewet, tapi sekali ngomong benar-benar bermutu. Kakakku memang suka tipe gadis cerdas sepertimu."
"Pasti ia banyak menemukan gadis seperti itu di kampusnya," timpalku berusaha untuk menahan perasaanku.
"Mungkin saja. Aduh, Ema, apa kamu selalu membiarkan tamumu mati kehausan?"
Aku tergelak mendengarnya.
***
Jangan tanya seperti apa perasaanku ketika mematut diri di depan cermin usai berdandan. Aku jadi tahu seperti apa takjubnya Cinderela ketika Peri Biru membantunya agar dapat pergi ke pesta istana.
Mama yang melihatku begitu aku keluar kamar terpana beberapa detik. Ia seperti nggak mengenalku pada mulanya.
"Ema! Benarkah ini anakku? Kamu benar-benar berubah, Ema," Mama merangkulku hati-hati. Takut membuat gaunku kusut.
Aku menunggu kedatangan Budi di ruang tamu ditemani Mama dengan cemas. Setengah jam lalu Marlin sudah memberi kepastian lewat telepon kakaknya akan menjemputku.
Kulalui penantianku dengan mengamati jarum jam dinding. Ketika waktu menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit kecemasanku berubah bentuk. Batalkah Budi menjemputku? Aku mencoba untuk bersabar.
Kesabaranku benar-benar berubah ketika lima belas menit kemudian berlalu tanpa bunyi bel sekalipun. Mama yang melihat kegelisahanku lantas meremas jemariku.
"Bersabarlah, Ema. Barangkali ada sesuatu yang menghambat perjalanannya. Mama yakin akan ada seorang pangeran yang datang untukmu malam ini," hibur Mama sambil mengelus rambutku.
Ucapan Mama ternyata benar. Semenit kemudian bel rumah berbunyi. Aku terkejut ketika membuka pintu mendapatkan Budi dalam sosok yang lain.
Sisiran rambutnya berantakan, lengan bajunya kusut bekas digulung, dan mukanya berpeluh.
"Maaf aku terlambat, Ema. Ban mobilku meletus di tengah jalan. Terpaksa aku menggantinya lebih dulu. Dasar aku kurang ahli, tanganku sampai belepontan Cuma untuk mendongkrak dan mengganti ban saja," ucapnya membuatku tersenyum.
Aku memaklumi alasan itu. Kubawa ia ke dalam rumah untuk kukenalkan pada Mama. Budi sempat pula ke kamar mandi untuk merapikan kembali dirinya.
Dalam hatiku mulai kurasakan sesuatu yang tak biasa sejak mendengar kalimatnya tadi. Ia mau berkorban untukku seperti itu. Sikap yang benar-benar menyentuhku dan mampu mengubah kekagumanku yang mulanya kutujukan pada sosoknya, kini lebih tertuju pada pribadinya.
"Ema, aku bisa minta tolong padamu? Terus terang aku yang lagi kesulitan," ucap Budi sesaat setelah kami berada dalam mobilnya.
"Kak Budi sudah mau menolong saya, masak saya nggak mau sih? Tentu saja kalau saya mampu. Boleh saya tahu, apa yang bisa saya bantu?"
"Ada teman kuliahku yang akan tunangan minggu depan. Dia mengundang semua temannya, cuma dengan satu syarat. Undangan harus datang dengan pacarnya, bukan sekadar pasangan bohongan. Bisa saja aku mengajak Marlin, tapi temanku itu sudah tahu Marlin adikku. Kamu keberatan kalau kujemput malam Minggu depan sekali lagi? Tentu saja aku nggak akan mengulangi ketololanku malam ini, datang terlambat."
"Baiklah, saya tak keberatan. Bila ternyata Kak Budi menemukan pasangan untuk ke pesta itu selain saya, saya tak juga keberatan bila kemudian kak Budi membatalkannya," jawabku segera. Aku tak ingin terlalu banyak berharap. Tuhan sudah mengutus seseorang untuk menjemputku ke pesta malam ini saja aku sudah bersyukur.
"Aku nggak akan mengubah ajakanku ini. Kamu mau tahu sebabnya. Lantaran malam ini kamu kelihatan cantik sekali!" puji Budi sambil menatapku sekilas.
Aku tak kuasa menahan perasaanku. Pujiannya sanggup membuatku melayang. Heran, padahal saat Mama mengatakan kalimat serupa tadi, perasaanku tak terombang-ambing begini? Apa artinya ini ya? ©

0

SEPASANG LULUGU BIRU

"Heh! Gue punya kejutan buat elo."
Rara mendongakkan kepala dari komik Asterix-nya. Dilihatnya Ludi masuk dengan senyum khasnya. Membuat Rara urung melemparkan beker di atas meja karena kekurangajaran cowok itu seenak hati masuk ke kamar. Sudah berulang kali sebenarnya Rara mengingatkan bahwa Ludi bukan lagi anak kecil dan mestinya mengerti yang namanya privacy.
"Simpan dulu komik ini. Nggak bakal lari!" paksa Ludi. Tangannya menarik komik yang dipegang Rara.
Rara menguntit Ludi. Semoga kali ini kejutannya bukan yang aneh-aneh. Tahun lalu Ludi memberi kado ulangtahun yang membuat mukanya merah. Setengah lusin buku pengetahun tentang seks! Mana Rara membukanya di depan puluhan pasang mata lagi.
Ludi terus berjalan ke luar rumah. Ia baru berhenti di depan VW kodok biru tosca, kado ulangtahun ke tujuhbelas Rara dari Papa dan Mama sebulan lalu. Ludi membuka pintu mobil.
"Nah, perhatiin deh di dalam. Ada yang berubah, kan?" tunjuk Ludi sambil tetap tersenyum. Ia yakin kali ini Rara akan terkejut bercampur senang karenanya.
Rara memperhatikan satu per satu ruang dalam mobilnya. Jok kursi, koleksi kaset, dan tumpukan komik sudah ada dari kemarin. Tapi... mata Rara membelalak sewaktu melihat rangkaian bunga imitasi yang menggantung di kaca spion dalam mobil. Dadanya serasa sesak.
"Ludi! Elo buang kemana Lulugu Biru gue? Trus, siapa suruh elo masang bunga jelek itu di dalam mobil?" teriakan Rara menyengat kuping Ludi. Untung nggak ada benda yang bisa dilempar ke arah Ludi.
Ludi buru-buru masuk ke mobil mengambil bunga plastik yang ia gantung. Sementara didengarnya Rara terus memakinya habis-habisan.
"Elo emang nggak tau diri banget! Nggak tau malu! Pokoknya jangan temui gue sebelum mengembalikan Lulugu Biru itu!"
"Lulugu Biru?" tanya Ludi. Ia bingung karena omelan Rara bercampur dengan mata yang basah.
"Boneka biru yang elo culik itu, Bego!" Rara cepat membalikkan badannya dan menghamburkan diri ke dalam kamar.
Boneka yang berjajar rapi di dekat tempat tidur tak mampu menghibur kesedihan Rara. Buat Rara, lebih baik ia kehilangan semua boneka mahal di kamarnya ketimbang Lulugu Biru. Boneka itu memang tampak tak berharga. Cuma sekecil telunjuk tangan Rara, dibuat dari kain satin berwarna biru. Tapi kenangan manis yang menyertai Lulugu Biru tak akan pernah dilupakan Rara. Tak pernah!
Rara masih ingat saat sembilan tahun lalu ia selalu merengek agar Bunda Ris mendongeng kisah Lulugu Biru setiap malam. Ia juga tak bisa melupakan saat penghuni panti asuhan lainnya memandangnya iri karena Bunda Ris menghadiahinya sepasang boneka Lulugu Biru.
"Sengaja Bunda memberikan sepasang boneka ini hanya padamu. Karena cuma kamu yang suka kisah Lulugu Biru," kata Bunda Ris saat memberikan sepasang Lulugu Biru. "Jaga baik-baik keduanya."
Rara pun masih ingat saat ia menangis seharian—dua hari sebelum kepindahan Rara ke rumah Mama dan Papa yang mengangkatnya—karena satu dari sepasang bonekanya hilang. Itu sebabnya ia bertekad menjaga sisa satu boneka yang ia miliki.
"Rara, kamu nangis?" suara Mama yang menyembul di pintu kamar mengejutkan Rara.
Rara menyeka matanya. Ia pernah janji dalam hati nggak akan pernah nangis di depan Mama lantaran akan membuatnya sedih.
"Mama dengar kamu marah-marah tadi," ujar Mama seraya mendekati Rara. Dibelainya lembut tangan Rara.
"Ludi cari gara-gara lagi, Ma. Lulugu Biru yang Rara gantung di mobil diilangin dia," tutur Rara. Ia menyesal memindahkan boneka itu dari kamarnya.
Mulanya lantaran beberapa hari ini ia sering bepergian dengan mobilnya, maka Rara merasa perlu memindahkan Lulugu Biru, agar senantiasa berada di dekatnya.
"Tapi nggak usah sampai maki-maki Ludi gitu, Ra. Jangan sampai kesalahannya nggak kamu maafin."
"Ini kesalahan besar, Ma. Cuma Lulugu Biru yang bisa menentramkan Rara bila teringat panti, Bunda Ris, dan...." Rara memutus kalimatnya begitu melihat mata Mama. Mama memang tak pernah mau mendengar Rara mengenang panti itu.
"Ludi terlalu baik untuk kamu musuhi walau dengan kesalahan sebesar apapun, Ra. Ingat siapa yang jadi teman perjalananmu pulang pergi ke sekolah sejak SD sampai sekarang? Siapa yang membelamu kalau teman-teman mengejek kamu anak angkat, Ra? Siapa...."
Rara membiarkan Mama menghitung-hitung kebaikan Ludi. Sementara pikirannya tertuju pada Lulugu Biru yang hilang.
***
Ludi termangu menatap boneka koyak di tangannya. Ia bingung lantaran Rara nggak pernah cerita bahwa boneka itu amat berarti. Padahal selama ini hampir nggak pernah ada rahasia antara mereka.
Aku harus segera mengembalikan boneka ini biar muka Rara nggak cemberut lagi, batin Ludi. Yang sudah-sudah, Rara sering menghukumnya bila ia marah. Dan itu sangat tak diinginkan Ludi.
Ia mengingat-ingat kepada siapa bisa minta tolong membetulkan Lulugu Biru yang koyak. Rasanya mustahil memperbaikinya tanpa menggantinya dengan yang baru. Untung Ludi ingat saudara sepupunya yang kuliah di fakultas seni rupa. Sore itu juga ia bergegas menuju studio tempat Wibi sering berkumpul.
Ludi senang sewaktu tiba di studio langsung bertemu Wibi. Tanpa basa-basi ia langsung mengajukan permohonan. "Tolong deh, Bang Wibi, boneka ini kalo bisa dibetulkan secepatnya. Abis bingung minta tolong ke siapa lagi, nih," kata Ludi dengan muka memelas. Kalau nggak gitu, ia nggak yakin Wibi mau menolong.
"Aduh, Di, kalo materi kain gini gue nggak bisa. Kecuali boneka ini dibuat dari gips, kayu, atau keramik," timpal Wibi setelah mengamati boneka yang disodorkan Ludi. Tapi Wibi tak tega membiarkan sepupunya itu tampak cemas. Ia berjalan mendekati temannya yang tekun mendesain mainan anak. "Res, elo bisa membetulkan boneka ini nggak?"
Resnu yang terusik mulanya nggak ingin menghiraukan, namun mendadak merubah raut mukanya saat melihat boneka di tangan Wibi. Tangannya langsung meraih boneka itu.
"Boneka siapa ini?" tanya Resnu cepat. Keningnya berkerut.
"Aku nggak tahu. Sepupuku yang bawa. Barangkali punya adik pacarnya. Kenapa memangnya?" Wibi bingung melihat reaksi Resnu.
Resnu mendekati Ludi. Ia memperhatikan dengan seksama cowok yang duduk dengan pandangan penuh harap kepadanya. "Elo tau nama boneka ini?" tanya Resnu seperti orang yang sedang menguji.
"Ya. Lulugu Biru," Ludi menyebut nama yang diingatnya.
"Gue sih bisa aja betulin boneka ini asal elo mau janji."
"Janji apa?" Ludi belum mau memberi kepastian.
"Ngenalin gue ama pemilik boneka ini." Di benak Resnu langsung terlintas bayangan seorang anak kecil dengan mata bundar dan suara tangis yang menggemaskan. Seperti apakah dia kini? Cantikkah?
Ludi mengerutkan keningnya. Ia yakin Resnu sudah mengenal Rara dari cara Resnu memandang Lulugu Biru. Tapi apa hubungan mereka? Ludi yang mengenal semua teman Rara jadi bingung.
"Gimana?" Resnu menyentak Ludi.
Ludi mengangguk tanpa ragu-ragu. "Kapan kira-kira selesainya?"
"Besok sore gue ke rumah elo. Gue jamin bonekanya udah jadi," jawab Resnu sambil senyum.
Senyum Ludi jauh lebih mengembang.
***
Resnu nggak pernah bisa ngelupain Tara. Si Mata Bundar yang sering minta perlindungannya. Resnu berdoa setiap malam agar mereka nggak dipisahkan. Tapi memang ada doa yang dikabulkan dan nggak. Ia amat kecewa begitu tahu Tara akan diangkat oleh sepasang suami istri kaya.
"Kamu jangan sedih, masih banyak Tara lain yang bisa kamu jadikan adik," hibur Bunda Ris setelah kepergian Tara.
"Apakah Resnu bisa mendapatkan alamat Tara, Bunda?" tanya Resnu. Ia ingin sekali bisa menemui Tara suatu saat nanti.
"Itu melanggar aturan, Resnu. Orangtua angkat Tara nggak menghendaki hal itu. Dan mungkin, Tara pun sudah ganti nama. Berdoalah agar suatu hari Tuhan mempertemukan kalian."
Ah, kalo begitu biarkan Tara yang kelak mendatanginya. Resnu nggak akan pindah ke rumah siapa pun karena ia sudah terlalu besar untuk diadopsi. Ia memang nggak tahu kalau Tara kemudian menjelma menjadi Rara, lalu pindah dari kota kecil itu ke Bandung.
Namun pertemuan yang sudah diatur Tuhan memang tak ada yang menduga. Setelah sekian lama menunggu, begitu lulus SMA ia memutuskan kuliah di Bandung dengan biaya sendiri. Resnu mencoba mencari Tara di sela perjalanan hidupnya. Siapa sangka ada Ludi, penghubungnya.
Buru-buru Resnu meninggalkan kamar kostnya begitu melihat matahari sore. Kedatangannya ternyata amat diharapkan Ludi.
Seharian ini Ludi sudah uring-uringan diperlakukan Rara. Dimulai pagi tadi saat Rara berangkat ke sekolah duluan tanpa menunggunya. Dan di kelas ia duduk ke ujung belakang menjauhi Ludi. Pulangnya, Ludi kehilangan jejak Rara. Benar-benar komplit hukuman Rara untuknya.
Maka nggak ada yang menggembirakan Ludi saat ini selain melihat Lulugu Biru dalam keadaan seperti semula.
"Gue udah nepatin janji. Giliran elo yang nepatin janji sekarang," ungkit Resnu setelah membiarkan Ludi girang sesaat.
Ludi diam. Ia sendiri masih bingung apakah Rara akan menerima dirinya atau nggak. Yang penting memang harus dicoba dulu. Bergegas ia mengajak Resnu ke rumah sebelah. Dari pintu pagar ia melihat Rara sedang bersiap-siap membersihkan VW-nya.
"Rara!"
"Heh, ngapain elo ke sini? Bawa-bawa orang segala! Udah elo temukan belum Lulugu Biru?" hardik Rara sambil bertolak pinggang. Tangannya menghempas selang yang dipegang.
"Nih, boneka elo," Ludi menyerahkan Lulugu Biru kepada Rara yang tetap memasang wajah angker. "Gue udah dimaafin, kan?"
"Enaknya! Nggak segampang itu!" Rara berteriak. Ia membalikkan badannya dan siap masuk ke rumah.Tapi telinganya menangkap suara Resnu.
"Tara... Tara..." Resnu yang terdiam beberapa saat terpana melihat sosok remaja Rara, akhirnya bersuara didorong kerinduannya.
Rara menoleh. Nama itu memang sudah lama tak didengarnya, tapi kenangan di panti tak pernah dilupakannya. Juga nama itu. Nama masa kecilnya di panti. Ia mengamati cowok yang datang bersama Ludi. Siluet masa lalu mengungkit kenangan pemilik dagu dengan gurat luka yang pernah Rara gores dulu.
"Kak... Resnu?" Rara ragu-ragu sejenak. Tapi begitu hatinya yakin ia langsung menggamit tangan Resnu tanpa sungkan. Rara bahagia banget menemukan sepenggal perjalanan hidupnya yang hilang. "Masuk yuk, Kak Res. Iiih, gimana ceritanya Kak Resnu bisa tahu Rara di sini?"
"Ludi yang nggak sengaja mempertemukan kita. Lho, kamu nggak ngajak Ludi masuk?" Resnu bingung karena Rara tak mengacuhkan Ludi. Spontanitas Rara bergayut manja di lengannya pun membuat rikuh.
"Ah, dia sih udah biasa nyelonong. Kalo mau masuk, ya masuk aja!"
Ludi mengikuti suara hatinya masuk ke rumah tanpa berpikir lagi. Ia ingin tahu reaksi Rara berikutnya.
"Kak Ludi mau minum apa? Masih suka susu cokelat?" tanya Rara sesaat sebelum berteriak memanggil Bi Uti.
"Kamu masih ingat minuman kesukaanku. Padahal kamu masih terlalu kecil waktu itu," ujar Resnu kagum.
"Ih, gimana bisa lupa dengan Kak Resnu? Yang suka ngebelain Rara kalo diganggu Idon, suka metikin mangga, suka..."
"Suka bikin kamu nangis sampai menjerit-jerit," timpal Resnu. "Lantas aku ikut nangis karena dijewer Bunda Ris."
Keduanya tertawa dan tertawa. Sesekali mereka menyeruput susu cokelat buatan Bik Uti. Obrolan tak juga beranjak dari kenangan masa kecil mereka. Lambat laun Ludi menyadari ia berada pada tempat yang salah.
"Ra, gue pamit duluan. Ada yang mesti gue kerjakan di rumah," pamit Ludi beringsut pulang.
Tak ada komentar apa-apa dari Rara. Cuma ucapan terima kasih Resnu atas kebaikan Ludi mempertemukannya dengan Rara.
Dari kamarnya di balkon rumah, Ludi melihat Resnu pulang agak larut malam diantar Rara. Ludi yakin dengan kegembiraan di hati Rara kini, cewek itu akan manis kembali kepadanya besok pagi.
***
Apa yang diharapkan Ludi semalam ternyata nggak dikabulkan sepenuhnya. Memang Rara sudah mau diajak berangkat bareng ke sekolah Rara. Tempat duduk Rara pun kembali ke asal, di depan meja Ludi. Cuma Rara masih irit mengeluarkan kalimat dari mulutnya.
Ludi nggak berani mengusikya, takut Rara sewot lagi. Yang penting ia bisa kembali dekat dengan Rara. Maka begitu bel pulang sekolah berbunyi, Ludi langsung mendekati Rara agar nggak kehilangan jejaknya lagi. Entahlah... ia kini sering merasa tersiksa bila berjauhan dengan Rara.
"Jadi nanti sore kita ke pameran buku?" tanya Ludi mengingatkan Rara pada janji empat hari lalu.
"Kayaknya sih nggak, deh," Rara tak yakin. Langkahnya semakin cepat memburu pintu gerbang. Bahkan Rara harus menubruk beberapa orang.
Ludi terkejut sewaktu melihat Rara menyeberang jalan, menghampiri seorang lelaki dengan motor gedenya. Resnu! Rupanya Rara sudah janjian akan dijemput. Ludi menelan ludahnya. Ia cuma mengangguk ketika Resnu melambaikan tangan ke arahnya. Sekejap kemudian mereka sudah hilang.
Ludi terpaksa pulang sendirian. Pantas tadi pagi Rara nggak mau membawa VW-nya. Malah ngotot ingin naik angkot.
Di rumah Ludi masih berharap Rara ingat janjinya ke pameran buku bersama. Tapi hampir larut malam dari kamarnya Ludi melihat Rara baru pulang diantar Resnu. Ludi baru tahu ke mana mereka pergi ketika bertanya esok paginya.
"Ke Sumedang. Elo tau kan dulu gue diangkat dari kota kecil itu," tukas Rara ketus.
"Tapi elo kan bisa pulang dulu."
"Elo jangan sok ngatur. Gue udah minta ijin Mama sebelumnya. Elo pikir gue nggak tahu aturan!" Rara memang bisa meyakinkan Mama bahwa kenangan masa kecilnya nggak perlu ditutupi lagi.
Ludi terdiam. Ia nggak mau bertengkar lagi. Apalagi mereka lagi di angkot. Seperti yang diduga Ludi, pulang sekolah ternyata Rara dijemput Resnu. Itu terulang terus esok, esok, dan esoknya lagi. Nyaris nggak ada waktu Rara tersisa untuk Ludi. Ia jadi menyesal dengan tindakan konyolnya menukar Lulugu Biru.
Padahal sewaktu Rara menginjak usia tujuhbelas Ludi sudah berniat menjalin lebih manis lagi hubungan mereka. Tak ada gadis lain yang memikat hatinya selain Rara.
Apakah Rara dan Resnu saling jatuh cinta? Itu nggak mustahil. Apalagi mengingat kebersamaan mereka yang berlebihan . Bukankah hasrat yang timbul di hati gue juga karena kebersamaan? Kalo memang demikian, gue harus melupakan hasrat di hati gue. Asalkan Rara bisa bahagia karenanya, Ludi membatin.
Cuma sewaktu ia ngobrol dengan Wibi, kegentaran hatinya kembali terusik.
"Resnu pacaran dengan Rara? Ah, gue rasa cuma temporal. Yang udah-udah Resnu nggak pernah serius dengan cewek lebih dari sebulan," tutur Wibi datar.
Cerita itu membuat Ludi gelisah melebihi sebelumnya. Gimana kalo Resnu benar-benar ninggalin Rara? Gimana kalo hati Rara terluka? Ludi nggak bisa menerima hal itu. Tapi usaha apa yang bisa dilakukan untuk mencegahnya? Rara pasti akan bilang Ludi kekanak-kanakan, bila menceritakan reputasi Resnu yang ia ketahui dari Wibi. Lagi pula agak sulit membuka percakapan dengan Rara pada posisi yang tak menguntungkan kini.
Sore sedang hujan sewaktu Ludi menemukan satu cara yang ia yakini keberhasilannya. Ia harus menemui Resnu.
***
Resnu pernah melakukan kesalahan terhadap Rara di masa kecilnya. Karenanya ia amat berharap bisa berjumpa dengan Rara. Tapi begitu pertemuan digariskan Tuhan, Resnu masih perlu waktu untuk mengakui dosanya.
Kini, di sebuah cafe yang berdiri di jalan Dago, Resnu merasa kesempatan itu telah tiba.
"Maafkan aku sebelumnya, Ra. Aku ingin mengakui kesalahan kecilku dulu. Aku... akulah yang mencuri salah satu boneka Lulugu biru milikmu. Waktu itu lagi bingung banget karena merasa sedih bakal kehilangan kamu. Karena aku nggak tahu kenangan apa yang akan kuperoleh, maka kucuri diam-diam bonekamu," tutur Resnu hati-hati.
Rara terpana. Matanya menembus kaca jendela cafe. Di luar hujan turun. Ia ingat hujan pun turun sewaktu ia menangis saat salah satu Lulugu Biru. Rara tak pernah menyangka bahwa bonekanya itu telah dicuri oleh orang yang telah dianggapnya sebagai kakak. Ludi yang konyol itu juga mengambil Lulugu Biru, tapi Ludi tak pernah tahu makna boneka itu bagi Rara. Sementara Resnu tahu betapa berartinya boneka itu buat Rara.
"Kamu nggak mau maafin aku, Ra?"
Selalu perlu waktu bagi Rara untuk memberi maaf kepada orang lain. Sekalipun itu kepada orang yang amat dekat dengannya. Rara merasa hidungnya tersumbat tiba-tiba. Ia langsung pergi ke toilet. Namun ketika kembali ke tempat duduknya, ia tak menemukan Resnu. Ada secarik kertas di dekat cangkir kopi susu Resnu.
Ra, aku harus ke Jakarta. Kuharap waktu seminggu cukup untuk berpikir dan mau memberiku maaf.
—Resnu.
Resnu mengendarai kencang motornya tanpa memedulikan hujan. Ia harus segera konsentrasi pada rencana pamerannya di Jakarta. Resnu berusaha melupakan sementara beban yang mengganjal di hatinya.
Sampai di tempat kostnya, Resnu terkejut mendapatkan Ludi menunggu di depan kamar kostnya. Ia segera mengajak Ludi ke dalam kamar. Resnu mencoba menebak maksud kedatangan Ludi sambil mengganti pakaiannya yang basah.
"Bang Wibi bilang Kak Resnu akan ke Jakarta besok. Makanya gue langsung ke sini," kata Ludi langsung.
"Pasti penting. Soal apa, Di?" tanya Resnu langsung. Pengalamannya mengajarkan ia tak perlu menutup-nutupi satu hal.
"Soal Rara. Tepatnya soal hubungan Rara dengan Kak Resnu."
Resnu tersenyum. Cowok di depannya tampak cukup kuat mental untuk mengutarakan kegelisahannya. "Kami memang akrab. Tapi jangan elo salah tafsirkan hubungan kami. Sejak dulu, kini, dan sampai kapan pun gue nggak akan mengubah pendirian gue. Gue hanya mengangap Rara sebagai adik. Nggak pernah lebih," ucap Resnu kemudian.
Ludi menghela napasnya. Ia jadi malu dengan prasangkanya.
"Dan elo, Di? Elo mencintai Rara, kan? Sudah gue baca dari mata elo sejak pertemuan pertama kita. Sayang elo terlampau rapuh. Elo kurang mempertegas sikap dan posisi elo sebagai cowok... "
"Kak Resnu tahu itu?" Ludi melupakan tingkat kedewasaan dan pengalaman Resnu.
"Dari cerita-cerita Rara tentang elo. Hanya elo yang sering dia ceritakan selama kami berduaan. Sayangnya elo nggak nyadar. Rara bukan cuma menginginkan seorang pengawal, tapi juga orang yang bisa ngebimbingnya tanpa gentar dengan kemanjaannya itu. Hal itu yang diharapkan Rara dari elo. Percaya deh... hanya elo yang dia cintai," Resnu berusaha membesarkan hati Ludi.
Ludi berusaha mencerna kalimat Resnu.
Sesungguhnya, Resnu tak sejauh itu tahu perasaan Rara terhadap Ludi. Tapi apa salahnya ia membantu Ludi. Paling nggak menyambung kembali ikatan mereka yang sempat goyah lantaran kehadirannya. Resnu sadar Rara memperalatnya untuk menghukum Ludi, tapi Rara kurang pandai menyembunyikan perasaannnya sehingga kerap bicara mengenai Ludi di depan Resnu.
Ludi tak bisa membuka mulut. Jadi betapa bodohnya ia selama ini. Larut dalam ikatan persahabatan sejak kecil sehingga tak menyadari adanya tuntutan yang berbeda dalam ikatan tali kasih.
"Ludi, gue minta tolong serahkan boneka ini pada Rara. Gue nggak sempat lagi menemuinya besok." Tahu-tahu Resnu menyerahkan sebuah boneka yang diambilnya dari laci.
"Lho, Lulugu Biru ini kan udah dikasih ke Rara seminggu lalu?" Ludi bingung.
"Biar Rara yang nanti jelasin. Heh... elo udah pernah denger dongeng Lulugu Biru dari Rara?"
Ludi menggeleng.
"Dongeng komplitnya aku kurang ingat. Secara garis besar, itu kisah tentang seorang puteri raja yang diberi hadiah oleh sang peri biru. Hadiah itu sepasang boneka bernama Lulugu Biru. Suatu hari salah satu bonekanya hilang. Raja mengadakan sayembara, bagi siapa yang menemukan boneka itu akan menjadi pangeran. Ternyata boneka itu hilang di istal istana. Penjaga kuda yang memang sahabat sang puteri beruntung menemukan boneka itu. Ia akhirnya menjadi pangeran...."
Kisah yang indah, Ludi membatin. Ia jadi ingin segera menyerahkan Lulugu Biru di tangannya kepada Rara. Dan menjadi pangeran di sisi Rara! ©

0

KALAU BULAN JATUH CINTA

Langkah Maya kian cepat menapaki tangga menuju kelasnya begitu mendengar bel tanda istirahat usai. Ia tak ingin Bu Nurky masuk kelas sebelum dirinya. Selain itu, ia harus menyempatkan diri menginterogasi Wulan.
"Heh, kemana aja kamu selama istirahat?" Maya langsung sewot karena Wulan ternyata sudah duduk di bangkunya.
Wulan cuma tersenyum.
"Di kantin anak-anak pada nanyain. Dodo nagih novel silat yang kamu pinjem, Idang nagih sebotol Fanta lantaran kamu kalah taruhan atas pertandingan bola semalam di teve, terus... aduh siapa lagi ya? Heh, malah cengengesan!"
"Lagian elo kok mau-maunya ngapalin pesen orang. Biar aja mereka nagih langsung," timpal Wulan.
"Begitu ya? Terus kemana aja kamu selama dua hari ini setiap bunya bel istirahat kamu langsung ngilang?"
"Ke perpustakaan."
Maya terbelalak. "Apa nggak salah tuh? Di sana kan seumur-umur nggak akan kamu temuin novel silat, Wul! Kapan kamu terakhir minum obat sih?"
"Lho, memangnya perpustakaan cuma buat baca-baca. Nggak...."
"Terus ngobrol dengan cowok? Hayo siapa dia?"
Wulan merasa dirinya terancam. Diliriknya pintu kelas. Aduh, moga-moga Bu Nurky cepat datang. Nah, benar kan. "Ssst, Bu Nurky dateng tuh!" bisik Wulan buru-buru.
Maya kesal. Mulutnya komat-kamit tanpa suara. Ia belum puas kalau pertanyaannya tak dijawab. Apalagi agaknya dugaannya kali ini benar. Ya, soal cowok. Ia bisa menangkapnya dari sorot mata Wulan. Oh, ini benar-benar berita. Si Iwul alias Wulan alias Rembulan Giargina sedang jatuh cinta. Tapi... berita itu belum cukup informasinya tanpa diketahui siapa cowok yang ditaksir Wulan. Akan kuselidiki, biar tahu rasa Wulan. Hehehe....
"Maya, kenapa kamu cengar-cengir? Kamu ngetawain baju baru Ibu, ya?" Bu Nurky di depat sewot begitu melihat mimik muka Maya. Ia memang selalu mengawasi dua gadis badung di kelas ini.
"Nggak kok, Bu. Baju Ibu bagus. Ngomong-ngomong beli di Tanah Abang ya, Bu? Abis mirip dengan punya tetangga saya."
"Sembarangan kamu!" Bu Nurky menghardik. Mukanya pucat. Ia bingung karena sudah lima orang menebak dengan jitu di mana ia membeli baju itu. Karena kesal, ia langsung menyuruh murid-muridnya ulangan mendadak. Biar tau rasa!
Tapi Wulan nggak protes seperti biasanya. Malah tumben-tumbennya ia mengumpulkan lebih dulu kertas ulangannya tanpa lebih dulu menyebarkan ke teman-teman cowok di sekitarnya. Maya gemas karena ia baru mengisi separuh soal di depannya.
Sampai bel bubar pelajaran sosiologi, Maya cuma menjawab empat soal essay dari sepuluh yang diberikan. Pelajaran berikutnya, ia sama sekali nggak menegur Wulan.
Begitu bel pulang berbunyi Maya langsung keluar lebih dulu. Ia mengambil tempat untuk menguntit Wulan. Diperhatikannya sobatnya yang berambut ala vokalis Roxette itu berjalan ke depan laboratorium kimia. Heh, mau apa anak sosial ke sana? Lima menit kemudian dari dalam laboratorium ke luar para penghuninya. Wulan dihampiri seorang cowok cakep. Maya tak begitu kenal dengannya karena ia yakin cowok itu jarang nongkrong di kantin, jarang menyentuh lapangan basket, dan... bukankah dia Ibnu. Cowok yang suka disebut-sebut teman-teman cewek di kelasnya karena wajahnya yang menggemaskan kayak bayi.
Jadi Wulan naksir Ibnu?
Maya buru-buru berbalik menuju ke kantin. Beberapa sobat kentalnya seperti biasa masih nongkrong di sana mengganggu anak-anak kelas satu. "Heh, dengar nih aku punya berita penting. Aku tahu sekarang kenapa si Iwul jadi lain. Dia ternyata lagi kasmaran dengan Ibnu, anak fisika itu," Maya langsung bertetetoet.
"Yang benar, nggak mungkin Iwul naksir Ibnu. Maksud gue Ibnu kan cowok...."
"Don, jangan gitu sama teman. Tomboi-tomboi juga Wulan masih normal, kok!" bela Maya.
"Dengan penampilannya yang macam gitu? Gue rasa semua orang sependapat dengan gue," timpal Dodong. Yang lain langsung manggut.
"Gue pikir malah dia pacaran sama elo," timpal Ijul.
"Kalian benar-benar keterlaluan!"
"Bukan gitu. Kalau tahu Iwul masih selera dengan cowok, dari dulu udah gue pacarin," tambah Ijul.
Maya memonyongkan mulutnya. Ia berbalik karena respon yang diharapkan dari teman-tamannya berbeda. Dalam kendaraan Maya jadi memikirkan Wulan. Kalimat yang dilontarkan teman-temannya soal Wulan jadi pikirannya.
Wulan memang tomboi. Bukan cuma dari dandannya, tapi juga perilakunya. Cewek itu cuma punya teman cewek Maya, selebihnya lelaki. Wulan lebih suka nongkrong di kantin sekolah atau ke lapangan basket daripada ngerumpi dengan teman-teman sejenisnya. Wulan nggak suka majalah cewek. Suaranya berat dengan tawa yang terbahak. Terkadang malah Maya lupa kalau teman jahilnya itu bukan cewek.
Tapi Maya tahu benar Wulan masih normal, nggak seperti yang dituding teman-temannya.
***
Esok harinya, cerita Wulan dan Ibnu jadi berita utama di SMA VIT. Entah siapa yang menyebarluaskan, dan lebih parah lagi menambah-nambahkan. Semuanya menyudutkan Wulan. Maya mengerti kalau kalimat nyinyir itu keluar dari para rival Wulan.
"Gimana bisa si Wulan pacaran dengan Ibnu? Dia kan nggak beres."
"Alaa, paling buat nutupin kenggakberesannnya."
"Tapi kok Ibnu mau, yah?"
"Semodern-modernnya dunia, dukun masih banyak, Non!"
Maya cuma menelan ludah mendengar mulut-mulut usil itu di tangga sekolah. Wulan juga pasti mendengar omongan usil itu. Mudah-mudahan ia nggak ngamuk.
Di dalam kelas raut muka Wulan nggak terlihat kisruh.
"Kamu udah dengar omongan orang di luar, Wul?"
Wulan mengangguk. "Biar aja, kafilah akan tetap berlalu meski anjing menggonggong."
"Kamu nggak bisa cuek gitu, Wul. Kalau kamu memang serius dengannya kamu harus perhatikan itu."
"Maksud elo, gue harus ngehajar mereka?"
"Bukan mereka, tapi kamu. Kamu harus mulai sedikit memperhatikan dirimu sendiri. Sori yah, Wul, terutama perilaku dan penampilanmu. Setelah aku pikir-pikir, ada salahnya juga mengabaikan omongan orang, terutama yang bernada kritis," papar Maya.
Wulan mendelik. "Kok elo jadi serius gini, May?"
"Aku cuma membayangkan kalau hal ini aku yang mengalaminya. Betapa sakitnya pasti. Apalagi kalau tudingan itu datang dari mulut teman-teman kita."
"Tudingan apa?"
"Bahwa kamu... mustahil menyukai cowok...."
Wulan terbelalak. "Gue belum denger yang itu. Siapa yang ngomong gitu? Biar gue hajar!"
"Tuh kan, kalau kamu begitu orang makin curiga. Seperti yang aku bilang, ada baiknya kalau kamu yang melakukan perubahan."
Wulan mendengus. "Elo yakin ini akan berhasil?"
"Tentu aja. Dan aku yakin Ibnu akan makin menyukaimu. Kamu serius kan dengannya?"
Wulan tersenyum. Maya sudah tiga kali gonta-ganti cowok, ia pasti tahu jawabannya.
***
Wulan akhirnya menyadari juga kalimat Maya. Ia memang nggak bisa terlampau mengacuhkan kata-kata orang. Bahwa orang menilai orang lain dari kulitnya memang selalu terjadi di mana-mana. Dan nggak ingin hal itu sampai berlarut-larut. Bagaimana kalau sampai terdengar ke telinga Mamanya tudingan-tudingan itu.
Wulan melakukan perubahan, kendati perlahan tapi amat terasa. Hari pertama ia mulai menjauhi berlama-lama di kantin, kemudian mengurangi tawanya, berikutnya ia membuat tatanan rambutnya lebih modis dan seterusnya. Sejauh ini, Ibnu memberi respon positif.
"Kamu tambah cantik, Wul!" puji Ibnu pada hari ketujuh mereka pacaran. Mereka merayakannya di KFC sepulang sekolah.
Wulan tersipu.
"Nanti malam aku mau ngajak kamu ke rumahku. Aku ingin mengenalkanmu pada orang rumah."
"Sungguh? Secepat ini?"
Ibnu mengangguk. Bulu halus di atas bibirnya membuat pesona sendiri buat Wulan. Tapi sedetik kemudian ada perubahan di mukanya. Wulan menangkap sebuah kegelisahan pada Ibnu. Sebelum Wulan sempat menanyakan sebuah suara berat terdengar dari belakangnya.
"Eh, di sini rupanya," cowok yang umur sekitar tiga tahun di atasnya itu menyapa Ibnu.
"Iya. Ngg... kenalin. Ini kakak sepupuku, Raka. Ini Wulan...."
"Pacar baru Ibnu," tambah Wulan.
"Sori nih keburu-buru. Ibnu, tolong bilang sama nyokap, aku di rumah sepanjang hari ini." Raka langsung pergi tanpa menunggu kalimat lagi dari Ibnu dan Wulan.
Wulan tak peduli. Mungkin ia terburu-buru. Wulan melirik Ibnu. Cowok itu agaknya masih gelisah. Kenapa?
"Aku harus buru-buru pulang, Wul. Nggak apa-apa, kan?"
Wulan mengangguk. Mereka meninggalkan KFC. Setelah Ibnu mengantarnya sampai depan rumah. Wulan buru-buru masuk ke kamar. Pikirannya langsung tertuju pada persiapan untuk acara nanti malam.
Gue nggak mau mengecewakan Ibnu, Wulan membatin.
***
Ibnu mengangkat mukanya. Wajah Raka di depannya masih datar belum ada satu kalimat pun yang keluar dari mulutnya. Ibnu berharap hal ini akan segera beres.
"Jadi elo ngedeketin Wulan cuma buat pura-pura. Untuk nutupin keadaan elo di mata Mama sama Papamu. Emangnya nggak kepikiran ujungnya nanti. Gimana kalau Wulan ternyata benar-benar mencintaimu?"
"Tadinya Ibnu nggak berpikir sampai ke situ. Kirain, Wulan... sama seperti kita. Penampilan dan perilaku dia selama ini sudah Ibnu amatin, makanya Ibnu berani deketin dia. Tapi setelah dideketin, baru ketahuan dia ternyata normal. Rencana untuk berkompromi dengannya gagal, tapi Ibnu masih ngebutuhin dia untuk menutupi kecurigaan orang rumah." Ibnu mengingat bagaimana kata-kata nyinyir Mama ketika menemukan foto Raka di dompetnya. Untung saat itu Ibnu bisa berdusta.
"Terserah. Gue sebenarnya seneng-seneng aja kalo elo memang bisa sungguh-sungguh bisa mencintainya. Bercinta dengan normal. Nggak seperti hubungan kita saat ini. Tapi bukan dengan kepura-puraan yang melibatkan perasaan orang lain," Raka berusaha berbicara sedewasa mungkin. Ia sendiri sebenarnya sudah menguntit Ibnu beberapa hari ini. Dan betapa kagetnya ia ketika tahu Ibnu—yang bukan saudara sepupunya itu—tengah berusaha menggaet seorang cewek di sekolahnya. Ada perasaan cemburu bergelora.
Ibnu tersedak. Ia nggak mau ditinggal Raka, seseorang yang memberikan kasih yang diimpikannya. Nggak mau kendati ia tahu hal itu nggak wajar. Dan Wulan, belum benar-benar mampu singgah di hatinya.
"Lakukanlah yang menurutmu terbaik saat ini juga," kata Raka sambil menunjuk HP di dekat Ibnu.
Tanpa ragu Ibnu menelepon Wulan.
"Halo, Ibnu! Udah siap, nih. Kapan gue dijemput?"
"Wulan... aku harus bilang... aku nggak jadi mengajakmu ke rumah. Dan mengenai hubungan kita... sebaiknya berakhir sampai di sini aja." Ibnu sadar kalimatnya akan menyakiti hati Wulan. Tapi biar gimana juga ia harus mengatakannya. Lebih cepat lebih baik bagi Wulan dan dirinya.
"Ibnu, elo nggak bercanda, kan? Ini... ini terlalu singkat. Kenapa, Ibnu? Ada yang salah dengan gue?"
"Bukan... bukan kamu yang salah. Aku yang salah. Tapi aku belum bisa ngomong sekarang. Aku belum siap...."
Wulan mematikan HP-nya. Berjam-jam ia nggak sabar nunggui datangnya malam, dan ketika saatnya datang justru kabar buruk yang ia terima. Wulan menengadahkan kepalanya memandang langit dari jendela kamar. Rembulan termangu di atas sana. Wulan benar-benar belum siap untuk patah hati. ©

Back to Top