Tampilkan postingan dengan label EMBAR T. NUGROHO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EMBAR T. NUGROHO. Tampilkan semua postingan
0

SAAT KEPERGIANMU


PROLOG
Hai, namaku Rangga Bayusela. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Medan. Aku memiliki histori cinta yang ingin kusampaikan kepada sahabat semua. Well, mungkin ini cuma roman picisan. Maybe, kisah cinta klise. Entahlah. Namun aku merasa perlu menceritakannya sebab aku tidak kepingin sahabat semua terpuruk di dalam 'kasus' cintaku yang miris. Ya, miris. Sebab selama ini, aku sudah dibutakan oleh obsesi cinta sehingga tak mampu melihat arti cinta yang sesungguhnya itu sendiri. Aku terkungkung dan terpenjara oleh obsesi meski di lain pihak, ada cinta lain yang justru merupakan cinta yang nyata dan sejati.
Cinta itu bernama Kristina Chadrawinata. Ia merupakan gadis sekampusku. Ia telah lama mencintai aku dengan sepenuh hati. Namun aku dibius oleh obsesi dan kecantikan Maya Rinjani Harahap sehingga melalaikan Kristina. Aku terus ingin menggapai gadis obsesiku, meski ia serupa gemintang yang tak terjamah. Hei, betapa bodohnya aku, mengharap gemintang penerang temaram hatiku sementara ada pijar kecil yang senantiasa bersinar untukku lewat pelita cinta Kristina.
Betapa naifnya aku. Seharusnya aku sudah diganjar karma dari obsesiku sendiri. Namun cinta sejati Kristina yang kutampik justru mengulurkan tangannya. Diberikannya aku bahunya untuk bersandar dan menangis. Dan diberikannya satu tempat yang paling istimewa di hatinya. Selamanya. Ya, selamanya.
***
Kabut tipis mulai menyelimuti hutan-hutan kecil di lereng bukit. Angin dingin menusuk tulang hingga ke ulu hati. Pohon-pohon pinus masih basah dan lembab. Api unggun mulai meninggalkan bara berwarna kemerahan. Dengan asap menjulang tinggi.
Di joglo kecil Rangga termangu. Memperhatikan siluet pinus yang berjejer rapi. Bak raksasa yang sangat menakutkan. Sesekali ia mendekap jaket parasutnya. Sambil teringat dengan seorang gadis yang pernah mencuri perhatiannya. Maya, nama gadis itu. Mahasiswi ekonomi di sebuah universitas.
Pertemuan itu memang begitu singkat. Di sebuah toko buku. Saat Rangga menubruknya tanpa sengaja, dan gadis itu memaki-maki Rangga seenak hatinya. Rangga pun berang dan membalas makian kecil itu. Dan ternyata mereka bertemu lagi di salah satu universitas di Medan. Pertemuan itu membuat Rangga terbayang-bayang dengan gadis judes yang menghardiknya. Kebencian itu pun timbul dengan sendiri. Rangga mengolok-olok si Gadis di depan umum. Bahkan di depan mahasiswa lainnya.
Namun kebencian itu mendadak berubah menjadi sebuah kerinduan di hati Rangga. Rangga berkali-kali mencoba merayunya. Meminta maaf kepada si Gadis. Tapi si Gadis menolaknya mentah-mentah. Ia sama sekali tidak mempedulikan Rangga. Meski Rangga sangat mengharapkan cinta sang Gadis, namun tetap saja ditolak.
Hal itu membuat Rangga sakit hati. Perih rasanya. Terasa kabut-kabut tipis menyelubungi relung hatinya. Entah mengapa kabut-kabut itu semakin menebal, rasanya.
Rangga mendesah pelan. Desahan angin menghapus tubuhnya yang beku. Gesekan angin membuat dahan-dahan pinus bergoyang dan riuh dengansuara yang syahdu. Saat menikmati semilir, sebuah tangan tiba-tiba saja menutup mata Rangga dari belakang. Rangga tercekat merasakan tangan dingin yang menutup kedua matanya.
"Sandy!" tebaknya asal.
Namun si Empunya tangan diam saja.
Rangga berusaha menebaknya lagi. Mungkin hal ini keisengan teman-temannya. "Jack! Lepasin, dong," tebak Rangga lagi.
Namun lagi-lagi orang di belakangnya itu diam saja. Rangga mengulurkan tangannya dan menebak lagi. Namun tidak ketebak.
"Aduh, siapa sih. Jangan bercanda terus, dong," seru Rangga menyerah.
Kemudian tangan itu pun membuka matanya dengan perlahan.
"Hei! Bengong saja," sapa seseorang padanya.
Rangga mengucek-ucek matanya. Melihat seseorang di depannya dengan terpana.
"Kristina?" gumamnya.
Gadis itu tersenyum. Duduk di depannya kemudian.
"Kamu kenapa sih, Ga. Melamun terus. Kamu lagi kasmaran, ya?" selidik Kristina.
"Ah, tidak, kok. Aku tidak melamum."
"Sudah, jangan bohongi aku. Buktinya, dari tadi aku perhatiin, kamu bengong terus. Aku tahu ada seorang gadis yang mencuri perhatianmu. Siapa sih dia?"
Rangga terbelalak sambil menelan air liurnya.
"Melamun? Melamunkan siapa?"
"Sudah deh, tidak usah bohong lagi."
Rangga mengerinyitkan keningnya. "Kamu tahu dari mana?"
"Aku sudah membaca semua buku catatan harian kamu. Maaf ya, kalau aku lancang."
"Kris...! Ja-jadi... kamu.... " Rangga menatap wajah Kristina dengan lekat, seperti tidak percaya atas pendengarannya sendiri.
"Maaf, aku tidak sengaja, Ga. Kamu marah?"
Rangga diam. Hening. Namun hanya sesaat.
"Siapa Maya? Kamu mengenalnya?" tanya Kristina memecahkan keheningan
"Hm, dia anak ekonomi."
Bibir Kristina membulat. "Oo."
Hening lagi. Perasaan Kristina tercabik-cabik. Sesungguhnya dia sangat mengharapkan Rangga menjadi kekasihnya. Namun Rangga tidak pernah menggubris perasaan itu. Meski perhatian yang diberikan Kristina sangat lebih untuk Rangga, Rangga seakan tidak peduli.
Tak berapa lama Rangga beringsut dari duduknya. Angin dingin semakin menggila seakan menghunus jantungnya.
"Aku pergi dulu, ya. Aku ngantuk," ucap Rangga sambil berlalu meninggalkan Kristina yang terpaku.
"Tapi, Ga. Tunggu... jangan tinggalkan aku dong, Ga."
"Sudah deh, besok saja ngobrolnya," tampik Rangga apatis.
Kristina terpaku. Kali ini hatinya seolah terhempas ke dalam cadas-cadas yang tajam. Namun Kristina dengan sabar hati menunggu kepastian yang tak pasti. Meski berkali-kali hatinya tersayat pedih karena Rangga memikirkan gadis lain, Kristina tetap saja memberi perhatian penuh terhadap Rangga.
Kristina terpaku memperhatikan Rangga yang meninggalkannya begitu saja. Malam seakan menghadirkan giris sunyi yang luar biasa. Tak terasa airmatanya menitik. Dan setiap begitu, maka ia hanya dapat menuangkan baur perasaannya lewat lembar-lembar buku diarinya. Di sana, ia menaburkan kalimat dalam bentuk puisi. Puisi cinta buat Rangga.
Ketika hasrat hatiku
mendambakan dirimu
namun bayanganmu
hanya terlintas dalam angan dan mimpiku
Aku begitu mendambakanmu
mengharap kau merajut benang cintaku
a
gar menjadi sebuah sutra
yang indah dalam hatiku
dan t
erlukis sejuta namamu
Kristina meremas buku diari yang senantiasa menyertainya kemana pun. Hatinya masih berdarah dalam penantian. Pemuda itu terlalu angkuh di dalam jumawitas obesesinya. Dipandanginya jelaga langit. Gemintang bermain mata dalam kerlap-kerlip abadinya. Mereka indah namun tak tergapai tangan. Seperti itulah Rangga sekarang. Ia gemintang yang tak terjamah!
***
Terlihat Rangga mengibaskan kotoran yang menempel di celana jinsnya. Membetulkan kancing jaket parasutnya hingga menutupi lehernya yang jenjang. Memakai penutup kepala dan syal. Entah mengapa bayangan-bayagan Maya bermain-main lagi di benaknya. Bayangan itu seakan tidak mau pergi.
'Mengapa Maya menolak cintaku?' batinnya lagi. 'Aku harus mendapatkannya. Harus!'
Rangga menuruni anak tangga joglo dan berjalan melewati semak belukar. Langkah terhenti oleh suara canda seseorang yang telah mencuri perhatiannya. Rangga berusaha mempertajam pendengaranya. Sepertinya ia kenal betul dengan suara itu. Ya, tidak salah lagi!
Rangga berjalan menghampiri sebuah pondokan kecil. Dengan lampu remang dan redup. Ia melihat dua orang anak manusia sedang memadu kasih.
"Maya?" jeritnya, mengerutkan dahi. "Sandy?" lanjutnya terbelalak tak percaya.
Sandy terbelalak kaget melihat kehadiran Rangga.
"Rangga...."
"Kalian ngapain di sini?" tanya Rangga menahan gejolak cemburu yang telah membakar di hatinya.
Ternyata Maya mencintai Sandy, sahabatnya. Pantas saja Maya menolak cintanya.
"Kamu keterlaluan, San! Kamu keterlaluan!" sergah Rangga emosi.
"Rangga! Apa maksud kamu!"
Rangga menarik baju Sandy dengan kasar. Matanya melotot tajam menahan kemarahan. Melirik ke arah Maya dengan tatapan mata tajam pula. Sedangkan Maya hanya tertunduk melihat Rangga yang tengah kalut. Maya meringkuk ketakutan di tempat duduknya. Matanya hanya sesekali memicing memperhatikan Rangga dan Sandy.
"Kamu pagar makan tanaman. Kamu tahu kan kalau selama ini cinta banget sama Maya."
"Sudahlah, Ga!" tepis Sandy. "Maya tidak mencintaimu."
"Hei, kamu pikir kamu hebat?! Sahabat macam apa kamu?!" Rangga mempererat tarikan pada kerah baju Sandy. Dan dengan kasar dientaknya tubuh tegap itu hingga terjerembab di atas rerumputan.
Tak lama kemudian Sandy bangkit dengan emosi yang membara. "Kamu mau apa sih, Ga?! Kamu tahu diri sedikit, dong. Maya itu tidak mencintai kamu! Tapi mencintai aku!"
"Hei, kurang ajar!" Rangga mendorong tubuh Sandy. "Yang pertama kali mengenal Maya itu aku! Bukan kamu!"
"Hm... apa kamu lupa, kamu itu tidak pantas mendapatkan Maya. Kamu itu pecundang!"
"Arrghhh...."
Buuuk! Braakkk. Duuk....
Rangga memukul tubuh Sandy berkali-kali. Dan menghajarnya tanpa ampun. Rangga dan Sandy terus berkelahi. Saling baku hantam memperebutkan seorang gadis yang sama-sama mereka cintai.
Sandy balik memukul Rangga dengan keras. Beberapa kali Rangga tersungkur dan bangkit dengan tertatih. Dengan terhuyung Rangga menghantam wajah Sandy. Dan Sandy yang sudah kalap juga memukul tubuh Rangga dengan kuat hingga ia terpelanting jauh di rerumputan.
"Sudah, San! Sudah...! Jangan berkelahi lagi!" Suara Maya terdengar menengahi kegaduhan mereka.
Rangga bangkit dengan sakit di sekujur tubuhnya. Semakin terasa sakit saat melihat Maya lebih memperhatikan Sandy. Ternyata benar, Maya sama sekali tidak mencintainya.
Rangga beringsut dengan mata memar. Hidungnya berdarah dan pelipisnya koyak. Ia sempoyongan di antara semak belukar. Berjalan tertatih dengan langkah yang tidak teratur. Dan mendadak saja ia tergelincir di bebatuan. Terperosok jatuh di dasar bukit. Terguling hingga terpental dan akhirnya terlentang tak sadarkan diri. Ranting-ranting kecil dan berduri menyayat jaket parasutnya.
Jeritan keras Rangga mengoyak sunyi malam di hutan pinus. Kristina tercengang di depan unggun yang masih melelatu. Ia bangkit berdiri dan segera menyongsong asal suara yang telah dikaribinya sekian lama.
***
Rangga membuka matanya dengan perlahan. Melihat seisi ruangan dengan mata nanar. Putih, semua serba putih.
'Apa aku sudah mati?' batinnya. Pandangannya buram, dan sangat masih buram.
"Rangga...? Kamu sudah sadar?" Suara seseorang menghentakkan hatinya.
"Kristina...." gumamnya parau.
"Sudah dua hari kamu tidak sadarkan diri. Kata dokter, kamu gegar otak ringan. Kamu harus banyak istirahat."
Rangga tersenyum tipis. Menggenggam jemari tangan Kristina yang semula beku. Kini hangat bagaikan matahari yang menyinari lubuk hatinya. Mengapa ia harus mengejar gadis yang tidak mencintainya sama sekali. Ia merasa berdosa telah membiarkan Kristina diselimuti kabut tebal. Kini ia berusaha menepis kabut-kabut itu dari kehidupannya.
"Jangan tinggalkan aku, ya?" ujar Rangga sendu. Suaranya masih terdengar parau.
Kristina tersenyum tipis dengan mata beriak airmata.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu, Ga. Selamanya. Percayalah."
Rangga tersenyum. Diciuminya jemari Kristina dengan lembut.
"Aku sayang kamu, Kris," ujarnya lirih dan pelan.
Kristina tersipu bahagia dengan pipi merona merah.
Kini kabut cinta tersebut tak lagi menutupi hati mereka. Kabut telah berlalu. Terhembus angin yang sepoi nan semilir.
Keduanya tersenyum bahagia. Terlebih Kristina, yang kini mendapatkan kembali hati pujaannya. ©

0

PEREMPUAN YANG BERSAMAKU

Perempuan itu, entah dari mana ia datang. Dan tidak ada yang tahu kemana ia pergi. Ia hadir ketika senja terkalahkan oleh sang malam. Ketika matahari terlahap habis di ufuk barat. Ketika lembayung berwarna merah saga. Namun ia tidak ada di acara-acara pesta. Atau di acara hajatan dan perwiritan. Tidak ada yang tahu ia tinggal di mana. Tidak ada yang tahu siapa ia, asal-usulnya. Dan tidak ada yang mau tahu cerita tentang ia. Ia bagaikan seekor burung gagak yang sangat menakutkan.
Ia muncul dari balik malam yang sangat dingin. Ketika malam telah diselubungi selimut hitam tebal. Bermandi cahaya rembulan yang redup dan suara binatang malam yang terdengar aneh.
Perempuan itu bergaun merah jambu. Memakai pemerah bibir merah muda dan memakai parfum kembang seribu. Memakai kalung putih bertaburkan batu manik. Rambutnya tergerai panjang. Ia bagaikan bidadari turun dari khayangan.
Malam menggayut. Mengantarkan kembali angin dingin yang beku. Membuat aku meringkuk dalam jaket parasutku.
Malam benar-benar membuatku kalut. Aku bertemu dengan perempuan itu saat pikiranku tengah digeluti sebuah masalah besar dalam hidupku. Ia hadir begitu saja di depanku. Dengan menebar senyum dan memperlihatkan sederetan giginya yang putih bersih. Memamerkan sedikit belahan pada dada dan kemolekan sintal tubuhnya. Bulu matanya lentik dengan bola mata bersinar.
Perempuan itu mendekatiku. Aku memang terpana melihatnya. Ia memang sosok perempuan yang sangat sempurna. Aku menatapnya dengan tajam.
"Jangan menatapku seperti itu," katanya lembut.
Aku mengerjap, tersadar dari lamunanku.
"Siapa kau?" tanyaku penasaran.
Perempuan itu tersenyum seraya duduk di sampingku.
"Akulah yang telah lama kau nanti," jawabnya lembut, mencoba merayuku.
Parfum yang menyeruak tercium di hidungku. Aku betul-betul tidak dapat membayangkan parfum apa yang telah dipakainya. Wangi dan teramat wangi. Aku mengerutkan dahiku. Sepertinya ia bisa membaca pikiranku. Saat ini aku memang sangat merindukan seorang gadis duduk di sampingku. Sudah lama sekali aku hidup melajang. Dan kini usiaku hampir berkepala empat. Tanpa ada embel-embel yang pasti. Istri dan anak.
Meski aku ingin sekali menanyakan dari mana ia datang dan di mana ia tinggal. Tetapi pertanyaan itu kukubur dalam-dalam. Aku tidak mau tahu ia datang dari mana, tinggal di mana dan siapa dirinya. Bukankah itu sudah menjadi haknya untuk tidak memberitahu kepada orang lain siapa dirinya?
"Kau kelihatan kusut. Apa yang kau pikirkan?"
"Hidup. Aku merasakan kehidupanku telah sirna," jawabku pelan.
"Kau tidak boleh berkata begitu. Hidup adalah suatu anugerah yang indah. Manis maupun pahit, mesti kita jalani dengan sebaik-baiknya."
Perempuan itu membelai pundakku. Sesaat aku merasakan suasana sejuk yang menyeruak di sekujur tubuhku. Tetapi aku tak mau terlarut dalam hal-hal aneh seperti itu. Bukankah itu suatu hal yang wajar, seorang lelaki menggeliat bila disentuh perempuan cantik seperti ia?
Malam semakin pekat. Hawa dingin seakan menguliti tubuhku. Menghantarkan kembali wangi parfum yang menyebar di sekitarku.
Itulah awal semua pertemuanku dengan perempuan itu. Ia muncul dari balik malam yang sangat pekat. Setelahnya, kami bergumul bagai sepasang kekasih di musim kawin. Kami telah kehilangan kalimat untuk sebuah percakapan. Ketika subuh menjelang, ia akan pergi begitu saja sebagaimana datangnya.
Aku merasa tenang berada di sampingnya.
***
Aku terjaga dari tidurku. Sesekali mengerjapkan mataku karena sinar matahari pagi. Mataku masih terlihat buram mencari sosok perempuan yang bersamaku malam tadi. Tetapi tak kutemukan. Aku hanya tegeletak di bawah sebuah pohon rindang yang berdaun lebat. Padahal malam tadi, perempuan itu mengajakku singgah ke rumahnya dan tertidur di ranjangnya yang empuk. Aku melihat sekelilingku. Ladang jagung dan sebuah anak sungai dengan airnya yang jernih. Sebuah gubuk jerami dan terbuat dari bambu kuning. Dan sebuah tanah kosong yang tak jauh dari tempatku terbaring.
Aku bangkit bersama kelelahan kemarin. Kemudian memaki kecil dengan umpatan serapah. Mengapa perempuan itu meninggalkan aku begitu saja. Dan meninggalkan aku di sebuah ladang jagung yang sama sekali tidak pernah aku tahu. Atau jangan-jangan ia sengaja mengajaku ke tempat ini agar tidak bisa kembali ke rumahnya? Atau ia ingin merampokku? Merampok?! Apa yang akan dirampoknya? Aku tidak punya apa-apa. Bahkan selembar uang sepuluh ribuan pun aku tidak punya. Aku hanya memiliki harta benda pakaian yang kukenakan diragaku. Tidak ada apa-apa. Aku hanya si Miskin yang baru saja di-PHK pada sebuah perusahaan yang juga di penghujung kebangkrutan.
Aku kembali ke rumah kontrakanku. Aku tinggal sendiri di kota ini dengan sejumput rasa frustasi. Kuhabiskan malam dengan baur sunyi. Aku tak punya kebiasaan lain selain menikmati rokok di bawah cahaya rembulan sambil memperhatikan asapnya mengepul di udara. Atau mengoceh sendirian dengan botol minuman keras sebelum akhirnya tersungkur di jalanan. Biasanya, sebelum matahari mencipta cahaya, aku sudah lelap di kamar kontrakan.
Senja adalah waktu yang paling nikmat untuk mengutuk apa saja. Aku akan menyumpah sampai mulutku terasa kering dan bergetah. Aku tak begitu mengerti mengapa aku begitu membenci hidup ini. Setelah puas dengan segala caci maki, aku akan meninggalkan rumah dengan gumpalan amarah. Betapa kejamnya dunia ini terhadapku. Dan betapa manisnya dunia ini bagi sebagian orang yang bernasib beruntung, yang dapat hidup dalam gelimang kemewahan. Aku benci ketidakadilan dunia ini!
***
Perempuan itu datang lagi menemuiku. Aku tengah mabuk berat. Beberapa botol minuman keras telah terteguk dan kini bersemayam di lambungku. Aku sempoyongan dengan cegukan yang sesekali terdengar aneh seperti suara katak nan birahi. Dan berbaur bersama ocehan-ocehan yang biasa kulontarkan entah pada siapa. Bahkan aku tidak tahu siapa nama gadis itu sampai suatu saat ia mengingatkanku lagi!
"Aku Kinanti," ucapnya.
Lagi-lagi ia seperti tahu apa yang ada di pikiranku.
"Aku telah lama menunggumu," katanya sambil mengumbar senyum yang, lagi-lagi menggodaku.
"Kau menungguku?" Aku mengerutkan kening sambil melontarkan botol minuman keras kosong.
"Kau mabuk."
"Apa urusanmu?!"
Perempuan itu malah tersenyum. Dan begitulah ia menggodaku. Lagi-lagi aku larut dalam buaian asmaranya. Entah sudah keberapa kali kami menikmati pergumulan terlarang itu. Hingga aku terkulai di sisinya, di atas tempat tidur rumahnya. Ia membelai rambutku dengan lembut dan aku tertidur di pangkuannya.
Aku menghabiskan sisa malam dengan buncah bahagia. Ia seolah memupus semua lara yang berkecamuk di benakku. Aku rindu buaiannya yang dapat melamur kesedihanku. Aku rindu belaiannya yang dapat menghapus kebencianku pada dunia ini. Sejenak, ya sejenak.
Perempuan itu seperti anugerah yang diturunkan dari langit untuk menghiburku, meski dalam cinta terlarang yang sama-sama kami lakoni dalam keterasingan! Tetapi, apa peduliku?! Bayang-bayang lara dan pemuncak kesedihan telah memasungku ke dalam nista ini. Mungkin ini bukan cinta sejati seperti damba banyak insan. Namun ia telah mengenalkan aku pada idiom cinta melalui hubungan kami yang terlarang.
Aku memilih tertidur di pangkuannya, dan sejenak, malam ini, melupakan kembali lara dan kesumat yang senantiasa membuatku sakit!
***
Namun waktu bergulir demikian cepatnya. Seperti Pangeran yang dibatasi oleh ikrar sang waktu, yang akan mengubah sang Pangeran menjadi si Gembel, dan mengubah kereta kencana menjadi labu, maka aku pun harus pulang ke muasal keberadaan.
Pagi datang seperti sepercik sesal yang terus menggulung. Senyap. Sesenyap petang-petangku yang datang kemudian. Perempuan itu telah pergi. Ia tak pernah datang lagi. Mungkinkah ia meninggalkan aku karena aku seorang pemabuk? Atau ada laki-laki lain selaksana Pangeran Sejati, yang jauh dan jauh lebih sekar ketimbang aku yang hanya seorang 'gembel'?
Aku menggeleng. Entahlah.
Mataku mengerjap seperti biasa. Ada setetas dua landung embun yang dingin menerpa wajahku.
Aku terkejut bukan kepalang. Hei, kali ini aku dibawanya ke tempat pemakaman?! Rupanya, aku tertidur di sebuah perkuburan! Dan saat ini aku masih separo terlentang di samping sebuah kuburan dengan papan nisan bertuliskan nama seorang perempuan yang telah kukaribi beberapa hari belakangan ini!
KINANTI!
Seluruh persendianku serasa lemas.
Galauku berbaur bersama angin pagi dan aroma tanah pada kuburan tua. ©

0

PEREMPUAN PILIHAN

Terus terang, saat ini usiaku sudah nyaris kepala empat. Dan rambutku mulai memutih satu per satu. Raut wajahku pun mulai berkerut dengan garis-garis penuaan. Terutama di sekujur dahi dan pelupuk mata. Terang saja aku sudah semakin tua, tanpa terasa.
Tigaratus enampuluh lima hari bukanlah waktu yang singkat. Beribu hari sudah kulalui begitu saja. Tanpa ada embel-embel yang membuat statusku semakin jelas. Aku iri, iri sekali dengan teman-temanku yang sudah berhasil dan sukses. Dan kini mereka sudah menyandang gelar seorang ayah. Dan aku masih seorang bujangan yang belum mendapatkan apa-apa. Belum lagi orangtuaku yang selalu mendesakku agar segera menikah.
"Kau harus segerah menikah, Her. Umurmu sudah kepala empat. Apa yang kau tunggu? Apa kau mau disebut bujang lapuk seumur hidupmu?" Itulah komentar ibu setiap kali umurku bertambah, dan menanjak tanpa terasa.
"Jodoh itu ada di tangan-Nya, Bu," tepisku datar. Terus terang, kupingku sudah bosan terhadap kalimat-kalimat yang itu-itu juga. Dari tahun ke tahun.
"Ibu tahu. Tapi kalau kamu tidak mencarinya, apa Tuhan mau memberimu jodoh? Tidak mungkin, Her. Apa lagi yang kau tunggu? Kau sudah mapan, bahkan lebih dari mapan. Kapan lagi?"
Aku menggaruk kepalaku setiap ibu membuat pertanyaan seperti itu. Terlebih adik-adikku yang semuanya sudah berumah tangga. Rasanya perasaan iriku semakin memuncak.
Mungkin aku sangat minder dengan kata-kata ibu. Kata-kata itu selalu saja terngiang di telingaku. Belum lagi sahabat-sahabat seusiaku. Mereka sangat bahagia dengan pasangan hidupnya. Dengan buah hati yang sangat lucu dan menggemaskan. Tapi aku? Jangankan buah hati yang lucu, pendamping hidup saja aku tidak punya.
"Apa lagi sih yang Abang tunggu?" komentar adik perempuanku. "Apa perlu kami mengenalkan Abang dengan seorang wanita? Atau menjodohkan Abang dengan teman kami?"
"Tidak," tepisku. Aku bukan tipe laki-laki seperti itu. Apa mereka pikir aku tidak sanggup mencari pendamping hidup?"
"Lantas, bagaimana? Abang adalah kakak tertua kami. Dan kami tidak mungkin menunggu Abang berumah tangga, baru kami melepas masa lajang." Adikku yang satu berceloteh.
Terang saja dia tidak mau menjadi lajang tua sepertiku. Dan dia masih menghormati aku sebagai kakak dengan tidak ingin melangkahiku.
"Beri aku waktu," ucapku seraya berlalu dengan raut wajah yang kutekuk kecewa..
***
Sore terasa menyiksa. Bagaimana tidak. Sepulang kerja pikiranku bertambah kacau. Belum lagi serangan-serangan ibuku nantinya. Pasti ia akan mendesakku agar segera menikah. Aku maklum ibuku sudah semakin tua dan ingin menimang cucu dariku. Tapi apa boleh buat, aku memang belum mendapatkan jodohku.
Tetes air hujan dari langit membasahi kemejaku. Dengan sigap aku berlari ke sebuah cafe pinggir jalan. Suasananya memang sangat berkelas. Hangat dan bikin betah pengunjungnya. Dengan alunan musik yang sendu dan interior cafe yang futuristik, benar-benar membuatku betah. Aku menikmati suasana nyaman dan santai di cafe itu.
Seorang pelayan menghampiriku seraya menyodorkan beberapa menu makanan dan minuman. Kebetulan aku juga lapar dan haus. Aku memilih menu makanan yang ringan saja. Aku tak ingin lemak tertimbun di perutku yang semakin membuncit. Setelah pelayan itu pergi, aku menghapus sisa air hujan di keningku. Kemudian mataku mengedar pada interior dan jendela cafe. Sangat transparan hingga terlihat dari luar.
Capuccino hangat disuguhkan di hadapanku. Aku mengaduknya perlahan, kemudian meneguknya dengan nikmat. Aku terdiam. Pandanganku tertujuh pada sisi luar cafe. Dan aku melihat gadis remaja di sana. Kehujanan, bajunya basah kuyup. Sepertinya aku mengenal orang itu.
"Sadrina...," gumamku pelan. Aku tidak salah lagi. Orang itu pasti Sadrina. Perempuan yang dulu pernah menjadi kekasihku. Tapi dia lebih memilih Reza ketimbang aku. Lantas kenapa dandanannya tidak seperti dulu? Aku mengerutkan keningku. Sambil terus memperhatikan perempuan itu dari dalam cafe.
Aku benar-benar tidak sampai hati melihat Sadrian di luar sana. Dengan perlahan aku pun beringsut dari kursiku. Berjalan keluar dan membuka pintu cafe. Aku memanggil Sadrina dengan keras. Hingga ia menoleh ke arahku.
"Sadrina, sini...." kataku.
Sadrina berlari sambil menutupi kepalanya. Kemudian menepiskan sisa air hujan yang membasahi bajunya. Aku merogoh saku celanaku dan memberinya tissue. Aku memandangi lamat wajah belia nan rupawan itu. Dulu, dia demikian dekat denganku.
"Terima kasih ya, Bang."
Aku mengangguk. "Sadrina, kenapa kamu ada di sini?" tanyaku di sela kesibukanya menghapus air hujan.
Dia menoleh ke arahku. "Her, aku...."
"Sudahlah, kita ke dalam, yuk," ajakku kemudian.
Sadrina mengikuti langkahku. Setelah mempersilakan dia duduk, mataku kembali menatapnya. Masih dengan seribu tanda tanya yang berseliweran di benakku.
"Bagaimana kabarmu, Sad?" tanyaku dalam keheningan.
"Hm, aku baik-baik saja, Her," sahutnya datar.
"Di mana suamimu?"
Sadrina terdiam sambil menatapku tajam.
"Suamiku sudah meninggal, Her. Dalam kecelakaan pesawat itu."
"Ops, maaf. Aku tidak bermaksud...."
"Ti-tidak apa-apa. Semua sudah takdir, kok," urainya dengan mata membasah. Tetapi ia berusaha tersenyum kemudian.
Aku mengangguk pelan. "Kau tinggal di mana sekarang?"
"Saat ini aku mengontrak di kawasan Medan Kota."
Aku terpaku menatapnya berkali-kali. Wajah itu dulu membuatku tergila-gila. Bahkan sampai aku seperti hilang kesadaran. Dan sampai kini benih-benih cinta itu masih tersisa.
"Kegiatanmu saat ini?" tanyaku lagi.
Sadrina tertunduk, seraya mengambil sehelai tissue yang kembali kusodorkan kepadanya.
"Aku tidak ada kegitan apa-apa, Her."
Keningku kembali berkerut. "Maksudmu?"
"Aku sementara menganggur. Sejak suamiku meninggal, aku seperti tidak memiliki semangat untuk bekerja. Lalu, perusahaan tempatku bekerja mem-PHK-ku karena dianggap tidak becus bekerja lagi."
Aku menghela napas berat. Kasihan sekali kau Sadrina. Kenapa kehidupanmu menjadi seperti ini? Bukankah orangtuamu begitu kaya dan terpandang?
Dan seolah dapat membaca pikiranku, Sadrina berucap membelah keheningan yang hanya terselingi irama instrumentalia musik cafe.
"Orangtuaku memang tidak menyetujui perkawinan kami, Her. Makanya, aku memutuskan untuk tidak pulang ketika suamiku meninggal. Mungkin mereka bersyukur, entahlah. Yang pasti aku tidak ingin menelan ludahku kembali yang, pernah terlontar untuk lebih memilih kemiskinan bersama laki-laki yang aku cintai ketimbang keluarga kaya orangtuaku."
"Aku prihatin, Sad. Namun aku yakin, seantipati apapun mereka terhadapmu, toh kamu tetap darah dan daging mereka sendiri. Lagian, maaf, suamimu sudah meninggal. Pasti mereka dapat memaafkan kesalahan masa lalumu. Pulanglah. Mereka adalah orangtuamu."
"Tapi, mereka tidak pernah merestui pernikahan kami. Hingga dulu, kami harus membuat keputusan sendiri. Menikah tanpa wali orangtua." Mata Sadrina terlihat basah.
"Sudahlah. Tidak usah mengungkit masa lalu."
Sadrina masih terisak. "Kini aku harus memenuhi kebutuhan anakku. Tapi aku bingung harus kemana mencari!" cetusnya dengan suara parau.
Aku mengernyitkan kening.
"Anakmu...?"
Sadrina mengangguk.
"Lantas, di mana dia sekarang?"
"Aku menitipkannya sama tetangga."
Aku menarik napas dalam-dalam. Merengkuh kemudian jemari tangannya dengan lembut, tak sadar. Tetapi aku tidak peduli. Jujur, aku masih mencintainya. Dan rasa itu belum memudar meski telah sekian tahun kenangan tersebut tercerabut di hatiku. Tiba-tiba ada sepercik lelatu tanya yang beriak dalam batinku. Apakah aku harus menikahi Sadrina? Seorang janda beranak satu? Atau menampik rasa cinta dan membiarkan aku kembali bermain dalam angan kenangan lama semata hingga rambutku memutih semua. Ah, aku tidak dapat mencetus keputusan di antara dilematisasi ini. Antara cinta lamaku, dan....
Saat ini aku tengah jatuh hati pada seorang gadis sebelah rumahku. Karibku bersamanya setelah bayang Sadrina semakin melamur dalam hari-hariku. Setelah dia tak mungkin kuraih. Saat dia memutuskan menikah dengan Reza, suaminya yang telah meninggal itu.
***
"Aku akan menikah, Bu," tandasku suatu sore.
Ibu dan adik-adikku terlihat berbinar bahagia mendengar penuturanku.
"Syukurlah kalau kamu sudah menemukan pendamping hidupmu. Siapa gadis yang akan kamu nikahi itu?" tanya ibu penasaran, ingin tahu.
"Maria," jawabku mantap.
Kontan saja mereka terperanjat kaget dan saling berpandangan.
"Maria...?!"
"Ya, Maria."
"Maria, gadis tetangga yang masih berumur delapan belas tahun itu, Bang?" Adik perempuanku masih terperanjat kaget dengan bola mata yang nyaris terlontar keluar.
"Iya, Maria. Dia adalah perempuan pilihanku. Memangnya kenapa?"
"Hah?!" ©

0

GAUN PENGANTIN


Aku kembali memperhatikan gaun pengantin berwarna putih gading bertaburkan manik-manik. Aku baru saja mengambilnya dari tukang jahit langgananku. Kami sudah lama berlangganan, sejak ibuku baru saja menikahi ayahku. Mungkin mereka adalah pasangan pengantin yang sangat bahagia. Memiliki tiga orang anak, satu putra dan dua putri. Ah, aku ingin seperti mereka. Menjadi orangtua dari anak-anakku kelak. Tapi harapan itu pupus saat aku terjerembab pada sebuah pernikahan yang semu.
Senja telah menutup layar kuning-jingganya sejak delapan jam lampau. Saudara-saudara dan sanak keluargaku sudah berkumpul. Sebagian mereka mempersiapkan makanan untuk tamu dan para undangan lainnya. Teratak dan tenda biru sudah berdiri di halam depan rumah kami. Janur kuning melambai-lambai tertiup angin. Tapi sampai saat ini aku tidak menemukan sosok Khaidir. Laki-laki yang akan menikahiku.
Mataku tak kuasa mengelak putaran pikiranku, meski masih teringat pesan ibuku empat jam lalu.
"Tidurlah, Nur. Sudah jam dua, kamu harus istirahat, besok kau akan bersiap-siap dengan acara pernikahan itu."
Tapi aku tidak peduli. Aku masih memandangi gaun pengantinku yang esok akan kukenakan di lekuk tubuhku.
Sampai dini hari aku masih duduk sendiri di sofa samping jendela kamarku. Tak bisa kuhitung berapa lama aku di situ sambil menatap halaman depan yang terlihat gersang. Menatap lautan dan perahu-perahu yang bersandar dan bergoyang gemulai di dermaga nun jauh tampak di sana, beberapa kilometer dari rumahku ini. Ombak kecil memukul-mukul badannya. Siluet perahu-perahu kecil tampak dari kejauhan. Separo rembulan dan gemintang tergantung di atasnya. Sedang suara-suara geliat malam tak mampu menembus jendela kaca kamarku. Malam pun melarut dalam kesunyian, sesunyi hatiku kini.
Pernikahanku dengan Khaidir akan berlangsung besok. Tapi sampai dini hari Khaidir tidak muncul di sampingku. Apa gerangan yang terjadi. Apakah Khaidir telah pergi bersama wanita lain? Atau ia sengaja menunda pernikahan ini hingga ia selesai menamatkan sarjana ekonominya? Tapi justru aku ingin pernikahan ini segera dilaksanakan meski tanpa restu orangtuaku yang sesungguhnya.
Aku mengambil vcd dari laci riasku. Aku tak ingin larut dalam kekhawatiranku akan sebuah pernikahan. Jujur saja aku sangat gugup dengan acara yang sangat sakral seperti ini.
Aku memasukkan vcd dalam dvd player miliku. Hadiah itu dari Khaidir, waktu kami sengaja jalan-jalan ke toko kaset dan vcd di kotaku. Kota kecil di dekat pesisir pantai. Meski sebagian orang di desaku lebih memilih hidup sebagai nelayan dan melaut, tapi mereka sesekali ingin menikmati suasana kotaku.
Suara-suara dalam vcd itu mengiang-ngiang di telingaku. Ah, semakin sunyi hatiku. Suara-suara dalam kotak kaca yang menayangkan film yang pernah menggetarkan hati anak-anak muda beberapa tahun silam. Kisah cinta yang dilerai malapetaka yang berujung pada kematian si Pemuda, meski keduanya berhasil menyelamatkan diri dari kecelakaan yang menenggelamkan kapal congkak Titanic. Ajal telah menjemput pemuda yang kelelahan dan terlalu lelap di permukaan samudera dingin. Tragis. Namun sang Gadis tetap setia pada cintanya, walau helai-helai salju telah memahkotainya. Kesetiaan yang tergenggam dalam kalung yang kekal masih tersimpan di memori hatinya.
Kesetiaan? Masih adakah?
Sebuah fatamorgana cinta yang kembali menampar kesadaranku tentang cinta. Apakah cinta itu ada? Oh, gaun pengantinku. Jujur saja, aku tidak sepenuhnya lagi percaya pada cinta semenjak pernikahanku hancur-lebur dalam hitungan satu menit. Pernikahan yang memang tak kupersiapkan dengan cinta selayaknya, kecuali kuingin hubunganku dengan Khaidir mendapat restu kedua orangtuaku.
Aku mengenal laki-laki itu pada sebuah acara pesta pernikahaan temanku. Dan dia yang memperkenalkan aku dengan Khaidir. Hatiku berbunga-bunga saat aku menatap wajahnya yang benar-benar menawan kalbuku. Menggetarkan seluruh persendianku. Dan aku memilih dia sebagai kekasihku. Namun orangtuaku menolak aku berpacaran dengan laki-laki itu. Mereka benar-benar tidak setujuh.
Khaidir, seorang seniman kawakan. Banyak mengalunkan puisi-puisi tentang cinta dan kehidupan yang serba fatamorgana. Kesetiaan cinta dan roman picisan yang berjuta-juta dialunkan.
Kesetiaan cinta? Masihkah kesetiaan merupakan mutiara hati setiap insan? Jika hanya kematian adalah pedang pemisah kesatuan jiwa, kenapa ketidaksetiaan begitu semena-mena mendiktekan suatu perpisahan? Di manakah cinta? Di manakah mutiara?
Mungkin engkau kini sedang menyimpan mutiara cinta itu, yang belasan tahun kupinta dari Tuhan. Belasan tahun, sejak tenggelamnya rasa cintaku. Dalam usiaku yang berangka dua puluh lima, masih kucari mutiara itu di antara laki-laki yang kujumpai di dunia ini.
Pernah kubaca sebuah puisi pendek di sebuah antologi puisi semasa aku masih mahasiswi belia.
"Biarlah cinta bercahaya.
Kuingin kembali menyusun
puing-puing kepercayaanku
pada cahaya cinta."
Angin dini hari menggigilkan belantara beton berkaca. Kupeluk hangat diriku sambil pandanganku tak lepas dari lampu-lampu di sekitar dermaga. Kekasih, andai perahumu tak juga datang beserta selembar surat nikah yang ditandatangani oleh orangtua kita, dan memang akhirnya harus kusadari bahwa kata-kata cintamu hanya halusinasi, mungkin harus kuterima ajakan naik perahu laki-laki lainnya yang betul-betul sudi segera membawaku berlayar, pulang, dan cinta kudapatkan pula. Sungguh, aku sudah tak tahan berlama-lama berlelah-lelah dalam kesetiaan penantian sepi ini.
***
Sinar matahari pagi menembus jendela kamarku. Dengan berat aku bangkit. Mataku masih sembab karena menangis dan dera luka batin yang berkepanjangan. Aku terjaga melihat sisi sampingku. Namun aku tidak menemukan sosok kekasihku di sana. Oh, di manakah kau, Kasihku. Bukankah kau telah berjanji dengan gaun pengantinku. Akan melekatkan gaun itu di lekuk tubuhku.
Gaun pengantinku masih tergeletak di sisi tempat tidur. Kubiarkan agar aku bisa memandangnya lebih jauh. Aku ingin sekali segera mengenakan gaun itu di tubuhku, dan elangsungkan pernikahanku dengan Khaidir. Namun hingga matahari kembali terbenam, meninggalkan warna merah saga, Khaidir tak kunjung datang. Aku kecewa dan sangat kecewa. Mengapa sampai saat ini Khaidir tidak menemuiku.
Ayah ibuku memandangku dengan tatapan yang sangat jauh. Aku bahkan tidak tahu tatapan apa itu. Apakah tatapan itu sama seperti tatapan beberapa waktu lalu. Saat mereka melarangku untuk menikah dengan laki-laki seperti Khaidir?
"Aku benar-benar terdampar
pada sebuah karang
yang sangat tajam.
Dermaga tak lagi mampu
menampung perahu-perahu kecil milikku."
Pandanganku terlihat nanar, nun jauh menangkap birunya air laut. Riak dan ombak saling bergulung dan berkejaran. Namun hatiku kini sedang beku.
Seseorang datang menemui orangtuaku. Aku tidak tahu siapa dia. Aku tidak kenal dengannya. Namun teka-teki itu baru terjawab ketika orang itu memberikan sebuah kepastian tentang laki-laki yang akan menjadi suamiku. Khaidir, ya Khaidir. Kini Khaidir telah pergi meninggalkan aku. Membiarkan aku membeku di dermaga ini, bersama gaun pengantinku yang tidak pernah kukenakan. Khaidir memilih menikahi wanita lain ketimbang diriku. Ternyata kesetiaan itu benar-benar tidak ada!
"Aku menangis
sedih ini tak akan berujung
seperti cemara layuk
oleh badai dan angin.
Cinta hanya sepenggal dusta
seperti landung embun yang jatuh
pada tanah
dan tiap resap
hanya menyisakan giris,
aku masih dahaga
dan 'kan mati dalam kerontang."
Kesunyian kian menghasut kesepianku. Keluargaku telah bermimpi sampai entah di mana. Aku belum ingin tidur. Kisah film Titanic mengajakku melayari angan-angan tentang cinta, kesetiaan, dan dirimu yang pada saat dingin dini hari ini entah sedang melakukan apa.
"Dan seperti waktu-waktu lampau,
setia kunanti perahumu datang.
Di ujung teluk sana
mercusuar berkedap-kedip
menggoda kerinduanku,
menggoda harapanku itu.
Kapal-kapal selalu hilir-mudik
bila mentari membuka
lebar-lebar jendela cakrawala,
burung-burung camar
kian menerbangkan anganku
ke ranjang angkasa
dan busa gemawan.
Bersamamu,
menikmati keindahan langit biru
sebiru cintaku...."
Aku sungguh-sungguh mengharapkan perahumu segera melawat, merapat di dermaga itu. Namun aku telah lelap dalam kesepianku. Aku terlalu jauh berjalan hingga ke tengah lautan. Mengenakan gaun pengantinku yang berwarna putih gading bertabur manik-manik pemberianmu. Sebagian air laut menenggelamkan tubuhku, hingga akhirnya aku bermukim di dasar laut ini sebagai penunggu abadi. ©

Back to Top